Kamis, 24 Maret 2011

PEMANFAAT REKAMAN BENCANA ALAM TSUNAMI DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI

Tugas Individu
Mata Kuliah Metodologi Pengajaran Bahasa
Dosen: Dr. Salam, M. Pd.



PEMANFAAT REKAMAN BENCANA ALAM TSUNAMI
DALAM PEMBELAJARAN MENULIS PUISI





Disusun oleh
ANDI BUDIARMAN
05501007





PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
DESEMBER 2006

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mahaesa atas limpahan rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan dosen mata kuliah Metodologi Pengajaran Bahasa.
Pemanfaatan Rekaman Bencana Alam Tsunami dalam Pembelajaran Menulis Puisi, merupakan salah satu uraian pengalaman penulis yang telah dilakukan dalam menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan di SMA Negeri 1 Liliriaja. Penulis menyadari pentingnya mengemukakan masalah ini, agar dapat menjadi bahan masukan kepada rekan mahasiswa S2 sebagai bahan pengayaan mengenai berbagai metode dan teknik pembelajaran bahasa Indonesia.
Karya Tulis sederhana ini, disusun dengan berbagai masukan, informasi, saran, dan kritikan dari berbagai pihak. Akan tetapi, penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun demikian, rasa terima kasih patut penulis sampaikan kepada:
Dr. Salam, M. Pd. yang telah memberi bekal pengetahuan sehingga penulis dapat menyusun karya ini.
Kepada seluruh mahasiswa program S2 Bahasa Indonesia angkatan 2005 yang saling asah, asih, dan asuh sehingga memberikan motivasi untuk penyelesaian tugas ini.
Kepada seluruh pembaca yang meluangkan waktu untuk merespon makalah ini.
Semoga makalah ini, bermanfaat untuk peningkatan mutu pembelajaran di Indonesia.
Soppeng, 10 Desember 2006

Penulis,

Daftar Isi

Halaman Judul. …………………….………………………..…………………
Pernyataan Keaslian Karya ……………………………………………………
Pengesahan……………. ………………………..…..………..………………..
Kata Pengantar ………………………………………………...………………
Daftar Isi ………………………………………………………...…………….
BAB I PENDAHULUAN …………………………….…...………………….
A. Latar Belakang ……………………………..……………………..
B. Ruang Lingkup dan Rumusan Masalah …………………..………
C. Tujuan ……………………………………………….……………
D. Manfaat …………………………………………..……………….
BAB II LAPORAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN …….……..………
A. Penyusunan Program Pembelajaran …….. …….….…………….
B. Penyajian ……………………………..………………..…….. …
C. Penilaian Proses dan Hasil Pembelajaran …. ………….………..
BAB III LAPORAN HASIL ……………………….……………..………….
A. Nilai Proses …………………………..……………. .………….
B. Nilai Hasil Belajar ……….……………………. ……………….
BAB IV PENUTUP …………………….…………………………………….
A. Simpulan ……………………………………………………….
B. Saran ……………………….. …………………………………
Daftar Pustaka ………………………………………………………………..
Lampiran ………………………………………………………………………
i
ii
iii
iv
v
1
1
3
4
4
5
5
6
10
13
13
14
22
22
23
24
25




BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan lima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
Menulis puisi memiliki banyak manfaat antara lain:
1. sebagai alat pengungkapan diri,
2. sebagai alat untuk memahami secara lebih jelas dan mendalam ide-ide yang ditulisnya,
3. sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap lingkungan
4. sebagai alat untuk melibatkan diri secara aktif dalam kegiatan bersastra
5. sebagai alat untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan menggunakan bahasa sebagai media komunikasi
6. meningkatkan inisiatif penulis (Roekhan, 1989 dalam Djoko Prodopo, 1998:29).
Salah satu kompetensi dasar yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada Kelas XI program Bahasa adalah siswa mampu menulis puisi berdasarkan pengalaman atau pengamatan. Adapun indikator ketercapain kompetensi tersebut adalah:
1. Siswa dapat memilih kata-kata/diksi yang mewakili perasaan/imajinasi siswa.
2. Siswa dapat menjalin kata-kata
3. Siswa dapat menjalin kata-kata ke dalam larik
4. Siswa dapat menjalin larik-larik ke dalam bait
5. Siswa dapat menjalin bait-bait ke dalam puisi yang utuh.
Kita berharap agar semua siswa dapat menulis puisi. Kenyataannya, berdasarkan tes sebelum pemberian materi pelajaran menulis puisi, dari 20 siswa hanya 2 orang saja yang mampu menulis puisi. Standar ketuntasan belajar minimal yang ditetapkan yaitu 70.
Kondisi siswa dalam pembelajaran puisi pada SMAN 1 Lililiriaja, sebelum penggunaan rekaman bencana alam tsunami tsunami dalam penulisan puisi, adalah:
1. Siswa tidak memiliki ide untuk ditulis dalam bentuk puisi,
2. siswa tidak tertarik terhadap pembelajaran penulisan puisi,
3. kemampun kreatif yang dimiliki siswa tidak sesuai dengan kegiatan penulisan puisi yang diharapkan.
4. Siswa memiliki bekal penguasaan bahasa yang kurang memadai.
Media Audio Visual (rekaman bencana Tsunami) berisi informasi lengkap yang melibatkan seluruh panca indera. Menurut Baugh, kurang lebih 90% hasil belajar seseorang diperoleh melalui indera pandang, dan hanya sekitar 5% diperoleh melalui idera dengar, dan 5% lagi dengan indera lainnya, (Arsyad, 2004:10).
Berdasarkan kondisi tersebut, maka penulis membuat rancangan pembelajaran dengan memperhatikan tahap penciptaan puisi dan memanfaatkan rekaman bencana alam tsunami sebagai pemancing daya imajinasi siswa untuk menciptakan puisi.
B. Ruang Lingkup dan Rumusan Masalah
Rekaman bencana alam tsunami meliputi VCD tsunami yang dimanfaatkan dalam pembelajaran menulis puisi. Pembelajaran ini dilaksanakan pada 20 siswa dalam kelas XI Program Bahasa SMA Negeri 1 Liliriaja pada Semester 1 tahun 2006/2007. Pelaksanaan pembelajaran selama 4 X 45 menit pada tanggal 9 September 2006.
Rumusan masalah yang akan dibahas adalah:
1. Apa sajakah yang disiapkan dalam penyusunan program pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan rekaman bencana alam tsunami untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi?
2. Bagaimana menyajikan pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan rekaman bencana alam tsunami untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi?
3. Bagaimanakah menilai proses dan hasil pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan rekaman bencana alam tsunami untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi?
4. Bagaimanakah hasil pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan rekaman bencana alam tsunami untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi?


C. Tujuan
1. Menguraikan penyusunan program pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan rekaman bencana alam tsunami untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi
2. Menguraikan penyajian pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan rekaman bencana alam tsunami untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi
3. Menguraikan penilaian proses hasil pembelajaran pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan rekaman bencana alam tsunami untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi
4. Memaparkan laporan hasil pembelajaran yang berkaitan dengan penggunaan rekaman bencana alam tsunami untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi.
D. Manfaat
1. Melatih guru penyusunan program pembelajaran yang inovatif.
2. Membiasakan guru menguraikan penyajian pembelajaran yang.kreatif.
3. Menemukan penilaian proses hasil pembelajaran yang sesuai karakteristik materi, media, dan teknik mengajar.
4. Guru dapat meningkatkan hasil belajar melalui pengunaan media yang kreatif dan inovatif.

BAB II
LAPORAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN
Nama kegiatan ini adalah penggunaan rekaman bencana alam tsunami untuk meningkatkan kemampuan siswa menulis puisi. Menulis puisi berdasarkan pengalaman merupakan kompetensi dasar yang perlu dipahami oleh siswa kelas XI Program Bahasa SMAN 1 Liliriaja.
Berdasarkan pengalaman penulis, pembelajaran menulis puisi selama ini selalu gagal karena kurangnya penggunaan media yang dapat merangsang minat belajar siswa. Bencana alam tsunami adalah suatu peristiwa yang sungguh memilukan sehingga rekaman bencana diyakini mampu menggugah daya cipta siswa untuk menulis puisi.
Rancangan kegiatan pembelajaran seharusnya dilakukan secara terprogram. Program pembelajaran meliputi penyusunan program, penyajian, dan penilaian. Secara rinci setiap kegiatan tersebut, dapat dipaparkan sebagai beerikut:
A. Penyusunan Program Pembelajaran
1. Penyusunan perangkat pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang disiapkan adalah silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan alat penilaian. (Terlampir).
2. Penyediaan media pembelajaran
Media pelajaran yang disiapkan adalah rekaman VCD tsunami. VCD tsunami diedit berdasarkan kebutuhan pembelajaran. Yang dibutuhkan dalam pembelajaran di sini, adalah gambaran peristiwa tsunami secara utuh, mulai dari keadaan Aceh sebelum tsunami, ketika tsunami, dan setelah tsunami.
Setelah diedit maka VCD tsunami tersebut ditansper ke program pawer poin untuk dipersiapkan sebagai media pembelajaran. Media ini merupakan rekaman audio visual tsunami di Aceh. Melalui rekaman tsunami diharapkan siswa tergugah perasaannya sehingga mereka peka terhadap nilai: indrawi, akali, afektif, sosial, ataupun gabungan dari seluruhnya. Rekaman kepekaan itu, tergambat dari puisi yang diciptakannya.
3. Persiapan lembaran kegiatan siswa
Lembaran kegiatan siswa berisi petunjuk yang harus dilakukan, materi, dan alat evaluasi dalam proses belajar mengajar untuk mencapai kompetensi dasar.
B. Penyajian
1. Kegiatan Awal
a. Apersepsi
Dalam apersepsi, guru mengajukan berbagai pertanyaan, antara lain:
1) Siapakah siswa yang pernah menulis puisi?
2) Siapakah siswa yang memiliki hobi menulis puisi?
3) Siapakah penyair yang Anda kenal?
4) Mengapa Anda menyenangi penyair tersebut?
5) Buku kumpulan puisi apa sajakah yang pernah Anda baca?
b. Motivasi
Guru menyampaiakan manfaat menulis puisi untuk masa depan siswa. Manfaat menulis puisi bagi siswa, antara lain:
Menulis puisi dapat dijadikan pekerjaan untuk persiapan masa depan. Menulis puisi dapat membuat seseorang terkenal seperti W.S. Rendra, Taufik Ismail, Chairil Anwar dan sebagainya. Menulis puisi dapat menjadi pemecahan persoalan dalam kehidupan ini. Menulis puisi dapat melatih diri menuju manusia yang menghargai dirinya, orang lain, bahkan Tuhannya.
c. Penyampaian Tujuan Pembelajaran
Kompetensi dasar: Siswa mampu menulis puisi berdasarkan pengamatan.
Indikator pencapaian: Dengan memperhatikan unsur lahir dan unsur batin puisi, maka:
1) Siswa dapat menulis kata-kata/diksi yang mewakili perasaan/imajinasinya sebagai bahan dasar penciptaan puisi
2) Siswa dapat menjalin kata-kata tersebut menjadi kata bernuansa puitik.
3) Siswa dapat menjalin kata-kata ke dalam larik puisi.
4) Siswa dapat menjalin larik-larik ke dalam bait puisi.
5) Siswa dapat menjalin bait-bait ke dalam puisi yang utuh.
2. Kegiatan Inti
a. Tes awal dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum pembelajaran dilakukan.
b. Tahap persiapan penciptaan
Tahap persiapan merupakan tahap pemunculan ide yang akan ditulis. Pada tahap ini siswa memerlukan situasi yang menunjang penghadiran inspirasi. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
1) Guru menciptakan suasana kegiatan belajar-mengajar yang kondusif. Siswa dibebaskan dari ikatan, santai, akrab, tetapi bertanggung jawab dan produktif. Siswa digiring ke ruang belajar yang jauh dari gangguan siswa lain. Salah satu ruang belajar yang digunakan adalah laboratorium bahasa. Siswa memilih tempat sesuai keinginannya.
2) Rekaman Tsunami diputar untuk merangsang inspirasi/imajinasi. Siswa mengamati dengan saksama rekaman peristiwa tersebut.
c. Tahap inkubasi
Tahap pematangan dan pengolahan ide. Guru membimbing siswa dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Mengajak siswa memusatkan pikiran dan perasaan pada ide yang muncul pada benaknya.
2) Siswa dilatih melihat ide tersebut dari berbagai sisi pandang dan mencari alternatif.
3) Untuk melatih kepekaan siswa, rekaman bencana tsunami Aceh dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebelum tsunami, ketika tsunami, dan setelah tsunami. Rekaman itu diperlihatkan dan dilengkapi petunjuk cara kerja siswa.
4) Siswa diberikan kebebasan untuk mendiskusikan ide itu dengan temannya.
5) Siswa dapat menulis kata-kata/diksi yang mewakili perasaan/imajinasinya sebagai bahan dasar penciptaan puisi

b. Tahap iluminasi
Tahap ini merupakan perenungan ide ke dalam bentuk puisi. Kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Rekaman tsunami tetap diperlihatkan.
2) Siswa dapat menjalin kata-kata tersebut menjadi kata bernuansa puitik.
3) Siswa dapat menjalin kata-kata ke dalam larik puisi.
4) Siswa dapat menjalin larik-larik ke dalam bait puisi.
c. Tahap verifikasi
Tahap ini sangat penting untuk memacu kemauan siswa menciptakan puisi. Kegiatan yang digunakan untuk membina mereka adalah:
1) Siswa saling menukar puisi masing-masing kemudian mereka diminta untuk saling memberikan kritik yang membangun.
2) Siswa menyempurnakan puisi berdasarkan kritikan temannya.
3) Siswa dikelompokkan sebanyak 5 kelompok yang masing-masing beranggota 4 orang. Setiap kelompok memilih satu puisi yang dianggap berkualitas.
4) Masing-masing kelompok menunjuk siswa membacakan puisi pilihannya.
5) Puisi pilihan masing-masing kelompok ditulis di papan tulis.
6) Siswa memilih puisi terbaik dalam kelas tersebut.
7) Guru meluruskan atau memberikan saran perbaikan yang dianggap perlu.
8) Guru memberikan penguatan.
d. Evaluasi
Pada akhir pembelajaran diadakan evaluasi. Siswa membuat puisi berdasarkan rekaman bencana tsunami. Pekerjaan siswa dinilai kemudian dikembalikan pada pertemuan berikutnya.
3. Kegiatan akhir
a. Simpulan
Pada akhir pembelajaran, guru menyimpulkan materi pelajaran.
b. Pemberian tugas
Guru memberikan tugas pada siswa membuat puisi dengan tema bebas sesuai minat siswa.
C. Penilaian Proses dan Hasil Pembelajaran
Aspek yang dinilai dalam penciptaan puisi adalah ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Penilaian proses tergambar dalam nilai afektif sedangkan nilai hasil pembelajaran tergambar dalam dinilai kognitif dan psikomotor atau nilai kemampuan menulis puisi.
Khusus dalam penilaian puisi, ranah kognitif dan psikomotor disatukan. pengetahuan dan keterampilan siswa menulis puisi tergambar dari puisi ciptaannya. Sedangkan ranah afektif dapat dilihat ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Lembaran pengamatan sikap dan minat siswa terhadap materi pembelajaran di siapkan oleh guru.
Penilaian afektif dengan mengukur dua komponen, yaitu sikap dan minat siswa terhadap pembelajaran menulis puisi. Guru menyiapkan lembaran pengamatan, dengan pokok-pokok sebagai berikut:
Apakah siswa antusias dalam pelajaran?
Apakah siswa aktif dalam diskusi?
Apakah ada gambaran bahwa siswa tersebut siap belajar?
Apakah siswa itu menghargai pendapat temannya?
Apakah tugasnya dikumpul tepat waktu?
Apakah buku catatannya rapi?
Apakah siswa itu mempunyai karya puisi dengan tema yang lain?
Apakah puisi itu diterbitkan pada media massa?
Apakah puisi-puisinya diperlihatkan pada teman untuk dikoreksi?
Apakah puisi-puisinya diperlihatkan pada guru untuk dikoreksi?
Jawaban didasarkan pada skala Likert dengan 5 skala: Sangat berminat, berminat, sama saja, kurang berminat, dan tidak berminat.
Instrumen setiap soal afektif diberi rentang skor 1 sampai 5. Klasifikasi nilai kualitatif dengan kriteria:
40 sampai 50 = A
30 sampai 39 = B
20 sampai 29 = C
10 sampai 19 = D
1 sampai 9 = E
Aspek yang dinilai untuk mengetahui kemampuan menulis puisi, meliputi: struktur fisik dan struktur batin puisi:
Struktur fisik:
a) diksi
b) pengimajinasian
c) kata konkret
d) majas (pelambangan dan kiasan)
e) bersifikasi (meliputi rima, ritma, dan metrum)
f) tipografi.
Struktur batin:
a) Tema
b) nilai rasa
c) nada atau sikap penyair terhadap pembaca
d) amanat
Rentang skor penilaian setiap aspek mulai dari 1 sampai 5. Jumlah skor terendah 10 dan maksimal 50. Nilai ditetapkan berdasarkan jumlah skor perolehan dibagi skor maksimal dikali 100.

BAB III
LAPORAN HASIL
A. Nilai Proses
Nilai proses yang dimaksudkan di sini adalah nilai afektif siswa ketika pembelajaran menulis puisi dilakukan. Aspek yang dinilai adalah: kesungguhan, keaktifan, kesiapan, kenghargai pendapat teman, ketepatan waktu dalam pengumlan tugas, kerapian catatan, banyak puisi yang diciptakan, adanya puisi di media massa, keterbukaan untuk dikoreksi karyanya, dan karya diperlihatkan pada guru.
Adapun gambaran nilai itu, sebagai berikut:
No. Nama Siswa Skor Nilai Kualitatif
Awal Akhir Awal Akhir
1 NILAWATI 28 35 B B
2 SUSILAWATI 29 36 C B
3 ANDI NUREVI 35 37 B B
4 IKA SARTIKA 32 41 B A
5 ANDI NURNANENGSIH 30 40 B A
6 RUSMILA MAURAGA 27 36 C B
7 SRI WAHYUNI FIRDAUS 26 35 C B
8 TARBIATI 25 39 C B
9 HERLINA 29 40 C A
10 SRI MULIARTIN 30 43 B A
11 HENRA 26 40 C A
12 ASMULIADI 27 37 C B
13 ISMAIL 28 39 C B
14 M.MUHAIMIN 28 38 C B
15 JAMALUDDIN 29 36 C B
16 A. RESKI WANDANI 26 39 C B
17 GUFRAN RUSAINI 31 45 B A
18 HARDYANSAH 30 47 B A
19 HERIADI MEKKA 31 48 B B
20 MUH. FITRA FADLI 31 49 B B
Jumlah 578 757
Rata-Rata 28,9 37,85 C B

Berdasarkan tabel di atas maka peningkatan nilai proses dari rata-rata 28,9 sampai 37,85 berarti 8,95 atau jika diwujudkan dalam nilai kualitatif yaitu dari rata-rata C ke B.
B. Nilai Hasil Belajar
Nilai hasil belajar menggambarkan taraf kemampuan siswa menulis puisi berdasarkan unsur fisik dengan skor maksimal 30 dan batin puisi dengan skor maksimal 20. Unsur fisik meliputi: diksi, pengimajinasian, kata konkret, majas (pelambangan dan kiasan), bersifikasi meliputi rima dan ritma, dan tipografi. Unsur batin puisi meliputi: Tema, nilai rasa, nada atau sikap penyair terhadap pembaca, dan amanat.
Diksi atau pilihan kata, misalnya kedukaan sebagai sumber citraan puisi. Pilihan kata yang tampak dalam puisi adalah: air mata, meringis, pedih, duka, luka, hati tergores dan sebagainya.
Berikut diksi yang dipilih siswa dalam puisinya:
Wahai, yang kuasa
Aku taktahan menahan duka
Seorang anak kecil meringis mencari ibunya
Beribu orang tenggelam dalam pencariannya (Ika Sartika)

Kesedihan ini terdengar sampai seluruh penjuru dunia
Luka ini menganga
Pedih ini tiada tandingannya. (Andi Nurevi)

Pengimajinasian meliputi meliputi pencitraan: citra visual, pendengaran, pengucapan, penciuman, kecapan, perasaan, perabaan, dan gerak.
Citra pengecapan dapat dilihat pada puisi berikut ini:
Di bibir pantai
Lidahku kelu
Suara hati nuraniku
Menyeringai (Andi Nurnanengsih)

Citra pendengaran dapat dilihat dalam puisi berikut ini:
Kesedihan ini terdengar sampai seluruh penjuru dunia
Luka ini menganga
Pedih ini tiada tandingannya. (Andi Nurevi)

Citra perasaan dapat dilihat dalam puisi berikut:
Beribu kata duka
Tak sanggup mewakili pedih perih
Hatimu. (Nilawati)

Kata konkret adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud membangkitkan imajinasi pembaca. Contoh: gadis kecil berkaleng kecil lebih konkret daripada gadis peminta-minta.
Kata konkret tergambar dalam puisi siswa, berikut ini:
Aku taktahan menahan duka, (Ika Sartika)
Air mata terasa panas di pipi, (Ika Sartika)
Luka menganga tertancap di dada, (Andi Nurnanengsih)
lebih konkret daripada aku bersedih/berduka.

Majas atau gaya bahasa merupakan salah satu hal penting dalam puisi untuk memperdalam kandungan makna puisi tersebut. Contoh majas dalam puisi siswa.

Di sini kubelajar memetik makna kehidupan yang Kau titip padaku. (metafora).
Mereka yang buta
Bukakan pintu hatinya
Agar mereka tahu
Makna perlindungan-Mu.


Kesedihan ini terdengar sampai seluruh penjuru dunia (hiperbola)
Laut melemparkan gelombangnya
Menutup kotamu
Mengapungkan harta benda
Membunuh beratus ribu nyawa


Di bibir pantai lidahku kelu (personifikasi)
Suara hati nuraniku menyeringai
Minggu pagi, gelombang mengamuk
Menghantam badan bumi
Menghapus kehidupan manusia

Aceh, kukenal deritamu (personifikasi)
Denyut jantungku adalah denyutmu
Tangismu adalah pedihku (personifikasi)
Kuharap engkau mengerti cobaan ini,
Hikmah dibalik deritamu

Belum kering luka
Menganga lagi duka di tanahmu
Air mengamuk
Air mata bercucuran

Persajakan atau rima dalam puisi siswa meliputi pola rima a a a a, ab ab, aa bb dan ab ba.
Rima a a a a, tampak pada bait puisi siswa, berikut ini:

Wahai, yang kuasa
Aku taktahan menahan duka
Seorang anak kecil meringis mencari ibunya
Beribu orang tenggelam dalam pencariannya (Ika Sartika)
Rima a b a b, tampak pada puisi berikut ini:
Mari bertobat, bersyukur, sambil menyeka air mata
Mengering di pipi.
Luka menganga tertancap di dada
Kita masih bertanya apa artinya ini. (Andi Nurnanengsih).
Rima aa bb, terdapat pada puisi berikut ini:
Biar beribu bait puisi
Tak mampu mewakili duka hati
Biar air itu mengisi tinta
Tak mampu kutulis pedih air mata (Susilawati)

Tsunami, adalah kuasa Ilahi
Lihatlah gelombang tinggi
Memukul manusia
Harta benda sirna seketika (Susilawati)

Rima a b b a, terdapat dalam puisi berikut ini:
Di bibir pantai
Lidahku kelu
Suara hati nuraniku
Menyeringai (Andi Nurnanengsih)

Kalian adalah suhada
Tuhan menghapus dosamu dengan air laut gemuruh
Kita mesti tabah
Meski kering air mata (Sri Wahtuni F,)

Tipografi puisi siswa tidak ada yang aneh, semuanya mengikuti puisi kompensional. Setiap bait puisi dibangun atas 3 sampai 5 larik. Jumlah larik tidak merata untuk seluruh puisi. Jadi, puisi siswa cenderung tidak diikat oleh jumlah larik dalam bait. Puisi ini mirip puisi modern yang lebih bebas.
Unsur batin puisi meliputi: Tema, nilai rasa, nada atau sikap penyair terhadap pembaca, dan amanat.
Tema puisi pada umumnya dinyatakan penyair secara tersirat. Meskipun puisi membicarakan banyak hal, semua hal itu menuju pada inti permasalahan, atau memperkuat pokok masalah. Tema puisi siswa pada umumnya turut berduka atas musibah Tsunami yang menimpa Aceh.
Nilai rasa yang diungkapkan siswa meliputi simpatik terhadap manusia lain yang turut membantu. Siswa turut merasakan atas duka yang menimpa Aceh.
Nada puisi adalah gaya pengungkapan yang menggambarkan sikap, pandangan, gagasan, atau suasana hati seperti yang terlihat dalam bahasa yang digunakannya. Sikap siswa terhadap bencana alam Tsunami terekam dalam bait puisi berikut:
Aku tak tahu apa tujuan kau tumpahkan air mata di Serambi Mekah
Kumencari hikmah pertunjukan-Mu
Kurasa tiada daya menganti puing duka dengan seteguk cinta
Di sini kubelajar memetik makna kehidupan yang Kau titip padaku. (Ika Sartika)

Kesedihan ini terdengar sampai seluruh penjuru dunia
Luka ini menganga
Pedih ini tiada tandingannya. (Andi Nurevi)

Di darat air mataku kering
Menatap mayat menggelepar tak berkafan
Satu lubang menganga untuk kuburan mereka
Di sini manusia dipermainkan
Dicampakkan
Nyawa murah (Andi Nurnanengsih)

Aceh, kukenal deritamu
Denyut jantungku adalah denyutmu
Tangismu adalah pedihku
Kuharap engkau mengerti cobaan ini,
Hikmah dibalik deritamu
Mengukir sejarah yang tak pernah mati. (Rusmila)

Pada mayat bergelimpangan
Kumencari makna kematian
Kumenyaksikan kepiluan. (Nilawati)

Kalian adalah suhada
Tuhan menghapus dosamu dengan air laut gemuruh
Kita mesti tabah
Meski kering air mata (Sri Wahyuni)

Maut mengintai lewat di balik gelombang
Secepat kilat menyambar ratusan ribu nyawa
Tak kuasa kumenolak derita
Tergoreng takdir tak terhindar (Tarbiati)

Tsunami mengajari kita
Betapa indahnya persudaraan
Persatuan, kekeluargaan, dan cinta
Ketika hilang semua
Baru kita mengerti itu. (Ismail)

Tsunami, adalah kuasa Ilahi
Lihatlah gelombang tinggi
Memukul manusia
Harta benda sirna seketika. (Susilawati)

Tuhan, kemanakah aku akan pergi
Tiada sanak keluarga
Orang yang datang tak kukenal
Mereka membawa bantuan
Tapi apa dia tidak mengharapkan sesuatu
Seperti manusia pada umumnya. (Asmuliadi)

Puisi mengandung pikiran-pikiran berharga yang dapat direnungkan sehingga menggungkapkan amanah. Amanah atau pesan adalah gagasan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca.
Amanah yang terdapat dalam puisi siswa, sebagai berikut:
1. Kita patut mengerti bahwa setiap cobaan ada hikmanya.(Rusmila Mauraga).
2. Semuanya duka kita serahkan pada Tuhan. (Andi Nurevi)
3. Semoga bantuan dari orang, tidak mengharapkan imbalan. (Asmuliadi)
4. Kita tidak mampu menolak takdir Tuhan. (Tarbiati).
5. Kita mesti tabah menghadapi bencana, Tuhan menghapus dosa kita. (Sri Wahyuni F.)
6. Melalui bencana kita dapat memetik makna kehidupan. (Ika Sartika).
7. Dengan menyaksikan kepiluan kita menemukan makna kematian. (Nilawati).
8. Tsunami mengajari kita betapa indahnya persaudaraan. (Ismail).
9. Sepatutnya kita bercermin pada setiap bencana yang menimpa. (Andi Nurnanengsih).
10. Tsunami adalah kuasa Ilahi. (Susilawati).
Nilai hasil belajar menulis puisi dengan mempertimbangkan unsur lahir dan batin puisi, tergambar pada tabel berikut ini:
No. Nama Siswa Skor Nilai
Awal Akhir Awal Akhir
1 NILAWATI 30 41 60 82
2 SUSILAWATI 32 40 64 80
3 ANDI NUREVI 33 45 66 90
4 IKA SARTIKA 38 46 76 92
5 ANDI NURNANENGSIH 37 43 74 86
6 RUSMILA MAURAGA 32 42 64 84
7 SRI WAHYUNI FIRDAUS 31 41 62 82
8 TARBIATI 32 41 64 82
9 HERLINA 31 40 62 80
10 SRI MULIARTIN 31 39 62 78
11 HENRA 30 39 60 78
12 ASMULIADI 32 40 64 80
13 ISMAIL 31 41 62 82
14 M.MUHAIMIN 33 39 66 78
15 JAMALUDDIN 32 38 64 76
16 A. RESKI WANDANI 33 36 66 72
17 GUFRAN RUSAINI 30 40 60 80
18 HARDYANSAH 31 35 62 70
19 HERIADI MEKKA 33 39 66 76
20 MUH. FITRA FADLI 30 37 60 74
Jumlah 1.284 1.602
Rata-Rata 64,2 80,1
Berdasarkan tabel di atas maka nilai rata-rata pada tes awal 64,2 sedangkan nilai akhir 80,1. Hal ini berarti rekaman bencana alam Tsunami dapat meningkatkan kemampuan siswa menulis puisi.


BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan urai tersebut dapat disimpulkan bahwa rancangan pembelajaran yang meliputi: Penyusunan Program Pembelajaran, Penyajian, Penilaian Proses Hasil Pembelajaran.
1. Penyusunan program pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah: Penyusunan perangkat pembelajaran, penyediaan media pembelajaran, dan penyiapan lembaran kerja siswa.
2. Cara penyajian pembelajaran yang dilakukan meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir. Kegiatan awal mencakup: apersepsi, motivasi, dan penyampaian tujuan. Kegiatan inti mencakup: Tes awal, persiapan penciptaan, inkubasi, iluminasi, dan perivikasi. Kegiatan akhir mencakup: simpulan dan pemberian tugas.
3. Penilaian puisi meliputi: ranah kognitif dan psikomotor disatukan. pengetahuan dan keterampilan siswa menulis puisi tergambar dari puisi ciptaannya. Sedangkan ranah afektif dapat dilihat ketika proses belajar-mengajar berlangsung. Lembaran pengamatan sikap dan minat siswa terhadap materi pembelajaran di siapkan oleh guru.
4. Nilai ranah kognitif dan psikomotor pada tes awal dengan rata-rata 64,2 sedang setelah pembelajaran atau nilai akhir dengan rata-rata 80,1. Nilai proses atau ranah afektif pada tes awal dengan rata-rata 28,9 dengan kriteria C dan tes akhir dengan rata-rata 37,85 dengan kriteria B. Hal ini berarti rekaman bencana alam Tsunami dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas XI Program Bahasa dalam menulis puisi
B. Saran
1. Sebelum pembelajaran dilaksanakan, guru sebaiknya menyusun perangkat pembelajaran agar kegiatan belajar terarah sesuai tujuan yang diinginkan.
2. Setiap kegiatan pembelajaran dibagi atas tiga bagian yaitu kegiatan awal, inti, dan akhir. Guru seyogianya merancang setiap pembelajaran dengan tiga kegiatan tersebut.
3. Sesuai kurikulum yang berlaku maka setiap pembelajaran seharusnya diukur berdasarkan tiga ranah, yaitu afektif, kognitif, dan psikomotor. Guru harus menyiapkan blanko penilaian setiap ranah tersebut.
4. Untuk meningkat keterampilan menulis puisi sebaiknya menggunakan media audio visual untuk memancing imajinasi siswa.

Daftar Pustaka

Arsyad, Azhar. 2004. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Budinuryanta. 1999. Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas. 2005. Pengembangan Kemampuan Menulis Sastra. Jakarata: Dirjen Dikdasmen

-------2004. Pedoman Umum Pengembangan Penilaian Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Dirjen Dikmenum.
------- 2004. Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar Sekolah Menengah Atas. Jakarta: Dikmenum.

------- 2002. Pembelajaran dan Penilaian Rumpun Bahasa dan Seni. Dirjen Dikmenum.

Djoko Pradopo, Rachmat. 1998. Puisi. Jakarta: Depdikbud.
Esten, Mursal. 1992. Memahami Puisi. Bandung: Angkasa.
Nauman, Indra Jaya. 2000. Penuntun Mengenali, Memahami, dan, Menghargai Puisi. Jakarta: Adicita Karya Nusa.

Supraptiningsih. 2005. Apresiasi Sastra Bahan Ajar Diklat Bahasa Indonesia SMA. Jakarta: Depdiknas.

Wardani, I.G.A.K. 1991. Pengajaran Sastra. Jakarta: Depdikbud.




Lampiran:
SILABUS

Nama Sekolah : SMA Negeri 1 Liliriaja Kab. Soppeng
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas : XI Program Bahasa
Semester : 1
Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman dalam puisi, cerita pendek, dan drama.

Kompetensi Dasar
Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian Alokasi
Waktu Sumber/
Bahan/Alat
Menulis puisi berdasarkan pengalaman atau pengamatan. Menulis Puisi 1. Menonton rekaman bencana alam Tsunami
2. Persiapan penciptaan.
3. Tahap inkubasi
4. Tahap Iluminasi
5. Tahap perivikasi
6. Evaluasi
1. Kata-kata/diksi yang mewakili perasaan sebagai bahan dasar penciptaan puisi
2. Jalinan kata-kata tersebut menjadi kata bernuansa puitik.
3. Jalinan kata-kata ke dalam larik puisi.
4. Jalinan larik-larik ke dalam bait puisi. Afektif
Melalui pengamatan.
Kognitif/ Psikomotorik

Tugas Individu/kelompok
Tugas Individu 4 X 45 menit Rekaman Bencana Alam Tsunami dalam VCD

Mengetahui Guru Bahasa Indonesia
Kepala SMAN 1 Liliriaja

Drs. UDIL HAMZAH Drs. ANDI BUDIARMAN
NIP 131414393 NIP 132006713


RPP (RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN)

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas/Semester : XI Program Bahasa/ 1
Pertemuan ke- :
Alokasi Waktu : 4 X 45 menit
Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman dalam puisi, cerita pendek, dan drama.
Kompetensi Dasar : Menulis puisi berdasarkan pengalaman atau pengamatan.
Indikator :
1. Siswa menulis kata-kata/diksi yang mewakili perasaan sebagai bahan dasar penciptaan puisi
2. Siswa menjalin kata-kata tersebut menjadi kata bernuansa puitik.
3. Siswa menjalin kata-kata ke dalam larik puisi.
4. Siswa menjalin larik-larik ke dalam bait puisi dengan memperhatikan unsur-unsur puisi secara utuh.
I. Tujuan Pembelajaran:
Dengan mengamati rekaman bencana tsunami, siswa dapat menulis puisi yang memuat unsur lahir dan batin puisi.
II. Materi Pelajaran
A. Unsur-Unsur Puisi
Unsur fisik meliputi: diksi, pengimajinasian, kata konkret, majas (pelambangan dan kiasan), bersifikasi meliputi rima dan ritma, dan tipografi. Unsur batin puisi meliputi: Tema, nilai rasa, nada atau sikap penyair terhadap pembaca, dan amanat.
Diksi atau pilihan kata, misalnya kedukaan sebagai sumber citraan puisi. Pilihan kata yang tampak dalam puisi adalah: air mata, meringis, pedih, duka, luka, hati tergores dan sebagainya.
Pengimajinasian meliputi meliputi pencitraan: citra visual, pendengaran, pengucapan, penciuman, kecapan, perasaan, perabaan, dan gerak.
Kata konkret adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud membangkitkan imajinasi pembaca. Contoh: gadis kecil berkaleng kecil lebih konkret daripada gadis peminta-minta.
Majas atau gaya bahasa merupakan salah satu hal penting dalam puisi untuk memperdalam kandungan makna puisi tersebut.

Persajakan atau rima dalam puisi siswa meliputi pola rima a a a a, ab ab, aa bb dan ab ba.
Tipografi puisi siswa tidak ada yang aneh, semuanya mengikuti puisi kompensional. Setiap bait puisi dibangun atas 3 sampai 5 larik. Jumlah larik tidak merata untuk seluruh puisi. Jadi, puisi siswa cenderung tidak diikat oleh jumlah larik dalam bait. Puisi ini mirip puisi modern yang lebih bebas.
Unsur batin puisi meliputi: Tema, nilai rasa, nada atau sikap penyair terhadap pembaca, dan amanat.
Tema puisi pada umumnya dinyatakan penyair secara tersirat. Meskipun puisi membicarakan banyak hal, semua hal itu menuju pada inti permasalahan, atau memperkuat pokok masalah.
Nilai rasa yang diungkapkan siswa meliputi simpatik terhadap manusia lain yang turut membantu. Siswa turut merasakan atas duka yang menimpa Aceh.
Nada puisi adalah gaya pengungkapan yang menggambarkan sikap, pandangan, gagasan, atau suasana hati seperti yang terlihat dalam bahasa yang digunakannya.
Puisi mengandung pikiran-pikiran berharga yang dapat direnungkan sehingga menggungkapkan amanat. Amanat atau pesan adalah gagasan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada dibalik tema yang diungkapkan
B. Penulisan Puisi
Pengalaman seseorang baik dalam bentuk sesuatu yang dilihat, dirasakan, maupun dalam bentuk lain dapat dijelmakan menjadi suatu bentuk yang bermakna bagi umat manusia, manusia memiliki kesadaran eksistensial. Suatu bentuk bermakna bagi manusia itu di antaranya adalah bentuk puisi.
Menulis puisi merupakan sesuatu kegiatan seorang intelektual yakni kegiatan yang menuntut seseorang harus benar-benar cerdas, harus benar-benar mengusai bahasa, harus luas wawasannya, dan peka perasaannya. Syarat-syarat tersebut harus dipenuhi agar puisi-puisi yang ditulis itu berkualitas.
Kualitas puisi ditentukan oleh keterpaduan unsur-unsur yang membangunnya baik unsur lahir maupun batin.
III. Metode Pembelajaran: Inkuiri dan diskusi
IV. Langkah-Langkah Pembelajaran:
1. Kegiatan Awal
a. Apersepsi
Dalam apersepsi, guru mengajukan berbagai pertanyaan, antara lain:
6) Siapakah siswa yang pernah menulis puisi?
7) Siapakah siswa yang memiliki hobi menulis puisi?
8) Siapakah penyair yang Anda kenal?
9) Mengapa Anda menyenangi penyair tersebut?
10) Buku kumpulan puisi apa sajakah yang pernah Anda baca?
b. Motivasi
Guru menyampaiakan manfaat menulis puisi untuk masa depan siswa. Manfaat menulis puisi bagi siswa, antara lain:
Menulis puisi dapat dijadikan pekerjaan untuk persiapan masa depan. Menulis puisi dapat membuat seseorang terkenal seperti W.S. Rendra, Taufik Ismail, Chairil Anwar dan sebagainya. Menulis puisi dapat menjadi pemecahan persoalan dalam kehidupan ini. Menulis puisi dapat melatih diri menuju manusia yang menghargai dirinya, orang lain, bahkan Tuhannya.
c. Penyampaian Tujuan Pembelajaran
Kompetensi dasar: Siswa mampu menulis puisi berdasarkan pengamatan.
Indikator pencapaian: Dengan memperhatikan unsur lahir dan unsur batin puisi, maka:
1) Siswa dapat menulis kata-kata/diksi yang mewakili perasaan/imajinasinya sebagai bahan dasar penciptaan puisi
2) Siswa dapat menjalin kata-kata tersebut menjadi kata bernuansa puitik.
3) Siswa dapat menjalin kata-kata ke dalam larik puisi.
4) Siswa dapat menjalin larik-larik ke dalam bait puisi.
5) Siswa dapat menjalin bait-bait ke dalam puisi yang utuh.

2. Kegiatan Inti
a. Tes awal dilakukan untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum pembelajaran dilakukan.
b. Tahap persiapan penciptaan
Tahap persiapan merupakan tahap pemunculan ide yang akan ditulis. Pada tahap ini siswa memerlukan situasi yang menunjang penghadiran inspirasi. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah:
3) Guru menciptakan suasana kegiatan belajar-mengajar yang kondusif. Siswa dibebaskan dari ikatan, santai, akrab, tetapi bertanggung jawab dan produktif. Siswa digiring ke ruang belajar yang jauh dari gangguan siswa lain. Salah satu ruang belajar yang digunakan adalah laboratorium bahasa. Siswa memilih tempat sesuai keinginannya.
4) Rekaman Tsunami diputar untuk merangsang inspirasi/imajinasi. Siswa mengamati dengan saksama rekaman peristiwa tersebut.
d. Tahap inkubasi
Tahap pematangan dan pengolahan ide. Guru membimbing siswa dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Mengajak siswa memusatkan pikiran dan perasaan pada ide yang muncul pada benaknya.
2) Siswa dilatih melihat ide tersebut dari berbagai sisi pandang dan mencari alternatif.
3) Untuk melatih kepekaan siswa, rekaman bencana tsunami Aceh dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebelum tsunami, ketika tsunami, dan setelah tsunami. Rekaman itu diperlihatkan dan dilengkapi petunjuk cara kerja siswa.
4) Siswa diberikan kebebasan untuk mendiskusikan ide itu dengan temannya.
5) Siswa dapat menulis kata-kata/diksi yang mewakili perasaan/imajinasinya sebagai bahan dasar penciptaan puisi
e. Tahap iluminasi
Tahap ini merupakan perenungan ide ke dalam bentuk puisi. Kegiatan yang dilakukan adalah:
1) Rekaman tsunami tetap diperlihatkan.
2) Siswa dapat menjalin kata-kata tersebut menjadi kata bernuansa puitik.
3) Siswa dapat menjalin kata-kata ke dalam larik puisi.
4) Siswa dapat menjalin larik-larik ke dalam bait puisi.
f. Tahap verifikasi
Tahap ini sangat penting untuk memacu kemauan siswa menciptakan puisi. Kegiatan yang digunakan untuk membina mereka adalah:
1) Siswa saling menukar puisi masing-masing kemudian mereka diminta untuk saling memberikan kritik yang membangun.
2) Siswa menyempurnakan puisi berdasarkan kritikan temannya.
3) Siswa dikelompokkan sebanyak 5 kelompok yang masing-masing beranggota 4 orang. Setiap kelompok memilih satu puisi yang dianggap berkualitas.
4) Masing-masing kelompok menunjuk siswa membacakan puisi pilihannya.
5) Puisi pilihan masing-masing kelompok ditulis di papan tulis.
6) Siswa memilih puisi terbaik dalam kelas tersebut.
7) Guru meluruskan atau memberikan saran perbaikan yang dianggap perlu.
8) Guru memberikan penguatan.
g. Evaluasi
Pada akhir pembelajaran diadakan evaluasi. Siswa membuat puisi berdasarkan rekaman bencana tsunami. Pekerjaan siswa dinilai kemudian dikembalikan pada pertemuan berikutnya.
3. Kegiatan akhir
a. Simpulan
Pada akhir pembelajaran, guru menyimpulkan materi pelajaran.
b. Pemberian tugas
Guru memberikan tugas pada siswa membuat puisi dengan tema bebas sesuai minat siswa.
V. Alat/Bahan/Sumber:
Alat : Rekaman VCD Tsunami
Bahan : Unsur-Unsur Puisi dan Teknik Menulis Puisi
Sumber : Djoko Pradopo, Rachmat. 1998. Puisi. Jakarta: Depdikbud.
Esten, Mursal. 1992. Memahami Puisi. Bandung: Angkasa.
Nauman, Indra Jaya. 2000. Penuntun Mengenali, Memahami, dan, Menghargai Puisi. Jakarta: Adicita Karya Nusa.
Supraptiningsih. 2005. Apresiasi Sastra Bahan Ajar Diklat Bahasa Indonesia SMA. Jakarta: Depdiknas.
Wardani, I.G.A.K. 1991. Pengajaran Sastra. Jakarta: Depdikbud.
VI. Penilaian:
a. Tes essay:
Soal: Buatlah puisi dengan memuat unsur lahir dan batin puisi berdasarkan pengamatan Anda terhadap bencana tsunami.
b. Alat penilaian afektif

LEBARAN KEGIATAN SISWA


Standar Kompetensi : Mengungkapkan pengalaman dalam puisi, cerita pendek, dan drama.
Kompetensi Dasar : Menulis puisi berdasarkan pengalaman atau pengamatan.
Indikator :
1. Siswa menulis kata-kata/diksi yang mewakili perasaan sebagai bahan dasar penciptaan puisi
2. Siswa menjalin kata-kata tersebut menjadi kata bernuansa puitik.
3. Siswa menjalin kata-kata ke dalam larik puisi.
4. Siswa menjalin larik-larik ke dalam bait puisi dengan memperhatikan unsur-unsur puisi secara utuh.
I. Tujuan Pembelajaran:
Dengan mengamati rekaman bencana tsunami, siswa dapat menulis puisi yang memuat unsur lahir dan batin puisi.
II. Petunjuk Kegiatan
1. Pahami materi pelajaran tentang cara menulis puisi!
2. Amati dengan saksama rekaman bencana alam tsunami!
3. Kerjakan soal yang telah disediakan!
III. Materi Pelajaran
A. Unsur-Unsur Puisi
Unsur fisik meliputi: diksi, pengimajinasian, kata konkret, majas (pelambangan dan kiasan), bersifikasi meliputi rima dan ritma, dan tipografi. Unsur batin puisi meliputi: Tema, nilai rasa, nada atau sikap penyair terhadap pembaca, dan amanat.
Diksi atau pilihan kata, misalnya kedukaan sebagai sumber citraan puisi. Pilihan kata yang tampak dalam puisi adalah: air mata, meringis, pedih, duka, luka, hati tergores dan sebagainya yang mewakili kesedihan.
Pengimajinasian meliputi meliputi pencitraan: citra visual, pendengaran, pengucapan, penciuman, kecapan, perasaan, perabaan, dan gerak.
Kata konkret adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu lukisan keadaan atau suasana batin dengan maksud membangkitkan imajinasi pembaca. Contoh: gadis kecil berkaleng kecil lebih konkret daripada gadis peminta-minta.
Majas atau gaya bahasa merupakan salah satu hal penting dalam puisi untuk memperdalam kandungan makna puisi tersebut.

Persajakan atau rima dalam puisi siswa meliputi pola rima a a a a, ab ab, aa bb dan ab ba.
Tipografi puisi siswa tidak ada yang aneh, semuanya mengikuti puisi kompensional. Setiap bait puisi dibangun atas 3 sampai 5 larik. Jumlah larik tidak merata untuk seluruh puisi. Jadi, puisi siswa cenderung tidak diikat oleh jumlah larik dalam bait. Puisi ini mirip puisi modern yang lebih bebas.
Unsur batin puisi meliputi: Tema, nilai rasa, nada atau sikap penyair terhadap pembaca, dan amanat.
Tema puisi pada umumnya dinyatakan penyair secara tersirat. Meskipun puisi membicarakan banyak hal, semua hal itu menuju pada inti permasalahan, atau memperkuat pokok masalah.
Nilai rasa yang diungkapkan siswa meliputi simpatik terhadap manusia lain yang turut membantu. Siswa turut merasakan atas duka yang menimpa Aceh.
Nada puisi adalah gaya pengungkapan yang menggambarkan sikap, pandangan, gagasan, atau suasana hati seperti yang terlihat dalam bahasa yang digunakannya.
Puisi mengandung pikiran-pikiran berharga yang dapat direnungkan sehingga menggungkapkan amanat. Amanat atau pesan adalah gagasan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Amanat tersirat di balik kata-kata yang disusun, dan juga berada dibalik tema yang diungkapkan
B. Penulisan Puisi
Pengalaman seseorang baik dalam bentuk sesuatu yang dilihat, dirasakan, maupun dalam bentuk lain dapat dijelmakan menjadi suatu bentuk yang bermakna bagi umat manusia, manusia memiliki kesadaran eksistensial. Suatu bentuk bermakna bagi manusia itu di antaranya adalah bentuk puisi.
Menulis puisi merupakan sesuatu kegiatan seorang intelektual yakni kegiatan yang menuntut seseorang harus benar-benar cerdas, harus benar-benar mengusai bahasa, harus luas wawasannya, dan peka perasaannya. Syarat-syarat tersebut harus dipenuhi agar puisi-puisi yang ditulis itu berkualitas.
Kualitas puisi ditentukan oleh keterpaduan unsur-unsur yang membangunnya baik unsur lahir maupun batin.
IV. Tes

1. Tulislah kata-kata/diksi yang mewakili perasaan sebagai bahan dasar penciptaan puisi!
2. Jalinlah kata-kata tersebut menjadi kata bernuansa puitik!
3. Jalinlah kata-kata ke dalam larik puisi!
4. Jalin larik-larik ke dalam bait puisi dengan memperhatikan unsur-unsur puisi secara utuh!
V. Aspek Penilaian Puisi
Lembaran Pengamatan
Nama :
Kelas/Semester :
Tanggal :

No. Aspek pengmatan 1 2 3 4 5 Skor
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Kesungguhan
Keaktifan
Kesiapan
Kenghargai pendapat teman
Ketepatan waktu dalam pengumlan tugas
Kerapian catatan
Banyak puisi yang diciptakan
Adanya puisi di media massa.
Keterbukaan untuk dikoreksi karyanya.
Karya diperlihatkan pada guru

Petunjuk penilaian/skor:
Jawaban didasarkan pada skala Likert dengan 5 skala:
5 = Sangat berminat,
4 = berminat,
3 = sama saja,
2 = kurang berminat,
1 = tidak berminat.

Kriteria nilai:
40 sampai 50 = A
30 sampai 39 = B
20 sampai 29 = C
10 sampai 19 = D
1 sampai 9 = E

Aspek Penilaian Puisi
Nama :
Kelas/Semester :
Tanggal :

No. Butir Penilaian 1 2 3 4 5 Skor
1. Diksi v
2. Pengimajinasian v
3. Kata Konkret
4. Majas
5. Bersifikasi
6. Tipografi
7. Tema
8. Nilai Rasa
9 Nada
10. Amanat

Petunjuk penilaian:
1 = sangat kurang
2 = kurang/sedikit
3 = sedang/ada
4 = baik/banyak
5 = amat baik/banyak sekali

Penentuan nilai= skor perolehan X 100 = Nilai
Skor maksimal

Tsunami Aceh (1)


Sabtu, dunia tenang, damai, tiada riak hanya riuh gembira
Minggu 26 Desember 2004, tsunami datang mengaduk kebahagianmu
Menghacurkan sorga ciptaan manusia
Rumah para kiyai, orang kaya, dan orang miskin terapung

Manusia bagai cecak disiram air panas
Berhamburan bangkai berbaur sampah
Air mata terasa panas di pipi
Meringgis pedih jeritan luka di dada

Wahai, yang kuasa
Aku taktahan menahan duka
Seorang anak kecil meringis mencari ibunya
Beribu orang tenggelam dalam pencariannya

Aku tak tahu apa tujuan kau tumpahkan air mata di Serambi Mekah
Kumencari hikmah pertunjukan-Mu
Kurasa tiada daya menganti puing duka dengan seteguk cinta
Di sini kubelajar memetik makna kehidupan yang Kau titip padaku.

Sumbangan pun mengalir, amal telah kauciptakan
Membayar duka
Setitikpun tak setimpal bahagia Kau anugrahkan padaku
Tapi kami tak menghayati rasa syukur itu

Aku bersujud di antara bangkai, puing-puing,
kerinduan seorang anak pada ibu di kabut pencahariannya.
Allahu Akbar!

Air Bah Tumpah di Aceh (2)


Kukira air itu menyimpan keindahan lewat riak, desir angin,
keindahan gelombang
Kukira tidak mungkin gedung, rumah mewah, dapat diloncati gelombang
Kukira orang tidur di lantai dua rumahnya tak akan dibangunkan oleh luapan air bah
Takterkira perahu lautan meluncur bagai kilat terlempar jauh dari lautan.

Air tumpah seketika
Mengaduk-aduk kehidupan manusia
Ada berteriak dalam cekikan air
Bunyi gemuruh tiba menenggelamkan suara merontah

Air surut
Bangkai bertebaran bercampur sampah
Harta sirna disapu gelombang
Duka tiada bahasa mampu membahasakannya

Kesedihan ini terdengar sampai seluruh penjuru dunia
Luka ini menganga
Pedih ini tiada tandingannya.

Kemanakah kita berharap
Untuk membayar duka
Jika bukan pada-Mu


Aku takbisa berkata-kata (3)

Ketika kulihat di layar kaca
Mayat bertumpuk bagai ikan teri telanjang basah
Gedung, rumah, toko, sejinis harta rata tanah
Para ibu mencari anaknya
Beratus ribu nyawa sirna seketika

Di bibir pantai
Lidahku kelu
Suara hati nuraniku
Menyeringai

Di darat air mataku kering
Menatap mayat menggelepar tak berkafan
Satu lubang menganga untuk kuburan mereka
Di sini manusia dipermainkan
Dicampakkan
Nyawa murah

Hai, manusia buka matamu
Bercerminlah lewat kaca bencana
Matilah sebelum hidup dicabut
Tuhan bersinggah sana
Memberimu teka-teki hidup
Kini terjawab

Mari bertobat, bersyukur, sambil menyeka air mata
Mengering di pipi.
Luka menganga tertancap di dada
Kita masih bertanya apa artinya ini.

Aceh kukenal deritamu (4)

Aceh kukenal, Serambi Mekah
Aku kagum padanya
Produksi ganja, kukecewa dibuatnya
Merindu merdeka, kukhawatir untuknya

Kini menyayat hati
Minggu pagi, gelombang mengamuk
Menghantam badan bumi
Menghapus kehidupan manusia
Memisahkan kisah manis jadi ringis pilu

Tiada pekik kemerdekaan
Suara tangis menggelegar
Meminta Tuhan membalikkan kehendaknya

Mayat bertebaran di jalan-jalan
di tepi laut bersusun membusuk
duka luka takdapat diobati seketika
Anak kehilangan bunda
Bunda kehilangan sanak saudara

Aceh, kukenal deritamu
Denyut jantungku adalah denyutmu
Tangismu adalah pedihku
Kuharap engkau mengerti cobaan ini,
Hikmah dibalik deritamu
Mengukir sejarah yang tak pernah mati.

Tak ada duka melebihi dukamu (5)


Beribu kata duka
Tak sanggup mewakili pedih perih
Hatimu

Belum kering luka
Menganga lagi duka di tanahmu
Air mengamuk
Air mata bercucuran

Tak ada duka melebihi dukamu
Laut melemparkan gelombangnya
Menutup kotamu
Mengapungkan harta benda
Membunuh beratus ribu nyawa

Pada mayat bergelimpangan
Kumencari makna kematian
Kumenyaksikan kepiluan

Oh, semoga ketabahan
Sedalam laut kau punya.

Rintihan bersamamu, Aceh (6)

Bersabarlah kawan,
Aku hanya mampu menggenggam mulut
Debaran jantungku bercamuk
Air mataku mengalir
Rintahan jeritaku memilukan hati

Dimanakah engkau berteduh
Rumahmu, hartamu, nyawa sanak keluargamu
Dikurung gelombang
Dihempas hingga mayatmu
Berhamburan

Kalian adalah suhada
Tuhan menghapus dosamu dengan air laut gemuruh
Kita mesti tabah
Meski kering air mata

Tuhan, ampuni mereka
Yang tidak kuasa mengartikan bencana
Mereka yang buta
Bukakan pintu hatinya
Agar mereka tahu
Makna perlindungan-Mu.

Rintihanku bersamamu, Aceh.


Aceh, nisan tak bernama (7)

Setitik airpun tak kuasa kuciptakan
Engkau mengaduk lautan
Menghantam hidupku yang terluka

Anak menangis tiba terapung lagi jadi bangkai
Ibu meraung-raung menggapai anak lepas dari tangannya
Tiba-tiba jadi mayat membusuk
Tangannya menggapai-gapai
Mulutnya menganga seolah berteriak, “anakku engkau dimana?”

Hari Minggu berlumuran duka
Menyisakan siksa
Memahat pahit luka
Manusia telanjang membusuk rasa

Maut mengintai lewat di balik gelombang
Secepat kilat menyambar ratusan ribu nyawa
Tak kuasa kumenolak derita
Tergoreng takdir tak terhindar

Kemanakah kita
Berlindung
Hujan duka
Menimpa negeriku

Aceh, kuberkubur dengan nisan tak bernama.

Minggu 26 penuh duka (8)

Sekejap mata sirnalah hidup
Musnalah harta benda
Manusia terapung melawan gelombang
Menjerit tak kuasa mempertahankan nyawa

Tiada tersisa kecuali luka duka
Tangis pilu
Merajuk kembali hidup teracak
Orang tua meninggalkan anak
Anaka meninggalkan orang tua
Istri meninggalkan suami
Suami meninggalkan istri

Tsunami mengajari kita
Betapa indahnya persudaraan
Persatuan, kekeluargaan, dan cinta
Ketika hilang semua
Baru kita mengerti itu.

Wahai saudaraku
Jangan lagi kau memisahkan diri
Berhentilah bertikai
Mari membangun cinta damai

Luka kita yang menganga
Butuh kasih sayang sesama.

Tsunami (9)

Biar beribu bait puisi
Tak mampu mewakili duka hati
Biar air itu mengisi tinta
Tak mampu kutulis pedih air mata

Tsunami, adalah kuasa Ilahi
Lihatlah gelombang tinggi
Memukul manusia
Harta benda sirna seketika

Dimana lagi kita akan menari
Jika susunan bangkai berserakan
Rumah tinggal puing porak poranda
Hanya luka di dada
Tiada berseri
Tiada duka melebihi luka ini

Tragedi ini menjadi cerita panjang
Seperti cerita GAM yang ingin merdeka
Seperti cerita pembantaian tentara
Atas perintah penguasa

Mari bersujud
Mencari jawab teka-teki bencana
Sambil mengusap muka penuh darah.

Ibuku, dimana kumencarimum(10)

Kemanakah kumencari
Setetes cinta
Jika bangkaimu pun tak kudapti
Kemana mengobati luka
Para dokter dan rumah sakit rata dengan tanah

Bergetar sukmaku
Melihat bangkai mengapung membusuk
Rumah kita hanya tanah kosong beratap langit

Tuhan, kemanakah aku akan pergi
Tiada sanak keluarga
Orang yang datang tak kukenal
Mereka membawa bantuan
Tapi apa dia tidak mengharapkan sesuatu
Seperti manusia pada umumnya.

Ibuku, cintai tak dapat kini
Seseorang menawari menjadi ibu
Pedih lukaku
Tak menjawab
Aku harus mencarimu

Bio Data
Peserta Lomba Inovasi Pembelajaran Guru LPMP
Propinsi Sulawesi Selatan Tahun 2006

1 N a m a Drs. ANDI BUDIARMAN
2 NIP 132006713
3 Jabatan Guru Pembina
4 Pangkat/gol. Ruang Pembina/ IV/a
5 Tempat dan tanggal lahir Soppeng, 31 Desember 1968
6 Jenis Kelamin Laki-laki
7 Agama Islam
8 Mata Pelajaran yang diajarkan Bahasa dan Sastra Indonesia
9 Masa kerja guru 14 tahun 6 bulan
10 Judul karya Tulis Penggunaan Rekaman Bencana Alam Tsunami untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Puisi pada Kelas XI Program Bahasa SMA Negeri 1 Liliriaja Kabupaten Soppeng
11 Pendidikan terakhir S1 IKIP Ujung Pandang
12 Fakultas/Jurusan FPBS/Bahasa dan Sastra Indonesia
13 Status perkawinan Kawin
14 Sekolah a. SMA Negeri 1 Liliriaja
b. Jalan H. A. Mahmud 69 Cangadi
c. Kelurahan Appanang
d. Kecamatan Liliriaja
e. Kabupaten Soppeng
f. Propinsi Sulawesi Selatan
g. Telepon 0484-421225
15 Alamat rumah a. Jalan H. A. Mahmud 69 Cangadi
b. Kelurahan Appanang
c. Kecamatan Liliriaja
d. Kabupaten Soppeng
e. Propinsi Sulawesi Selatan
f. HP 0815240487695
Cangadi, 10 Oktober
Peserta Lomba,

Drs. Andi Budiarman
NIP 132006713

PENGGUNAAN REKAMAN BENCANA ALAM TSUNAMI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI PADA SISWA KELAS XI PROGRAM BAHASA SMA NEGERI 1 LILIRIAJA KABUPATEN SOPPENG



Karya Tulis
Diajukan dalam Lomba Inovasi Pembelajaran Guru
Pada Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan
Propinsi Sulawesi Selatan
Tahun 2006


Disusun oleh
Drs. ANDI BUDIARMAN
(GURU BAHASA INDONESIA)



DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
KABUPATEN SOPPENG
SMA NEGERI 1 LILIRIAJA
OKTOBER 2006

Pernyataan Keaslian Karya

Karya dengan judul: Penggunaan Rekaman Bencana Alam Tsunami untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Puisi pada Kelas XI Program Bahasa SMA Negeri 1 Liliriaja Kabupaten Soppeng, adalah benar disusun oleh:
Nama : Drs. ANDI BUDIARMAN
NIP : 132006713
Asal Sekolah : SMA NEGERI 1 LILIRIAJA SOPPENG
Alamat Sekolah: Jalan H. Andi Mahmud 69 Cangadi Kabupaten Soppeng 90861
Karya ini, belum pernah diikutsertakan dalam lomba yang sejenis dan dijamin keasliannya.
Demikian pernyataan dibuat dengan penuh tanggung jawab.


Cangadi, 10 Oktober 2006
Mengetahui
Kepala SMA Negeri 1 Liliriaja Yang Membuat Pernyataan

Drs. UDIL HAMZAH Drs. ANDI BUDIARMAN
NIP 131414393 NIP 132006713

Pengesahan

Karya dengan judul: Penggunaan Rekaman Bencana Alam Tsunami untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Puisi pada Kelas XI Program Bahasa SMA Negeri 1 Liliriaja Kabupaten Soppeng, adalah benar disusun oleh:
Nama : Drs. ANDI BUDIARMAN
NIP : 132006713
Asal Sekolah : SMA NEGERI 1 LILIRIAJA SOPPENG
Setelah diteliti dengan saksama, maka karya tulis ini dinyatakan layak/sah untuk diikutkan dalam lomba inovasi pembelajaran tingkat guru SMA propinsi Sulawesi Selatan yang dilaksanakan oleh LPMP.
Demikian pengesahan ini, dibuat dengan penuh tanggung jawab.
Cangadi, 10 Oktober 2006
Yang Mengesahkan,
Kepala SMA Negeri 1 Liliriaja Penyusun,


Drs. UDIL HAMZAH Drs. ANDI BUDIARMAN
NIP 131414393 NIP 132006713


Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mahaesa atas limpahan rahmat-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan dosen mata kuliah Metodologi Pengajaran Bahasa.
Penggunaan Rekaman Bencana Alam Tsunami untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Menulis Puisi pada Kelas XI Program Bahasa SMA Negeri 1 Liliriaja Kabupaten Soppeng, merupakan salah satu uraian pengalaman penulis yang telah dilakukan dalam menciptakan pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan di SMA Negeri 1 Liliriaja. Penulis menyadari pentingnya mengemukakan masalah ini, agar dapat menjadi bahan masukan kepada rekan mahasiswa S2 sebagai bahan pengayaan mengenai berbagai metode dan teknik pembelajaran bahasa Indonesia.
Karya Tulis sederhana ini, disusun dengan berbagai masukan, informasi, saran, dan kritikan dari berbagai pihak. Akan tetapi, penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari kesempurnaan. Namun demikian, rasa terima kasih patut penulis sampaikan kepada:
Dr. Salam, M. Pd. yang telah memberi bekal pengetahuan sehingga penulis dapat menyusun karya ini.
Kepada seluruh mahasiswa program S2 Bahasa Indonesia angkatan 2005 yang saling asah, asih, dan asuh sehingga memberikan motivasi untuk penyelesaian tugas ini.
Kepada seluruh pembaca yang meluangkan waktu untuk merespon makalah ini.
Semoga makalah ini, bermanfaat untuk peningkatan mutu pembelajaran di Indonesia.
Soppeng, 10 Desember 2006

Penulis,
Daftar Isi

Halaman Judul. …………………….………………………..…………………
Pernyataan Keaslian Karya ……………………………………………………
Pengesahan……………. ………………………..…..………..………………..
Kata Pengantar ………………………………………………...………………
Daftar Isi ………………………………………………………...…………….
BAB I PENDAHULUAN …………………………….…...………………….
E. Latar Belakang ……………………………..……………………..
F. Ruang Lingkup dan Rumusan Masalah …………………..………
G. Tujuan ……………………………………………….……………
H. Manfaat …………………………………………..……………….
BAB II LAPORAN KEGIATAN YANG DILAKUKAN …….……..………
A. Penyusunan Program Pembelajaran …….. …….….…………….
B. Penyajian ……………………………..………………..…….. …
C. Penilaian Proses dan Hasil Pembelajaran …. ………….………..
BAB III LAPORAN HASIL ……………………….……………..………….
C. Nilai Proses …………………………..……………. .………….
D. Nilai Hasil Belajar ……….……………………. ……………….
BAB IV PENUTUP …………………….…………………………………….
C. Simpulan ……………………………………………………….
D. Saran ……………………….. …………………………………
Daftar Pustaka ………………………………………………………………..
Lampiran ………………………………………………………………………

i
ii
iii
iv
v
1
1
3
4
4
5
5
6
10
13
13
14
22
22
23
24
25

KEMAMPUAN MENULIS NARASI DENGAN MODELLING

KEMAMPUAN MENULIS NARASI DENGAN MODELLING


Makalah
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Keterampilan Berbahasa Tulis dan Pembelajaran
Yangdibina oleh Bapak Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd.

OLEH
MUHAMMAD FITRI
04034152009

JURUSAN BAHASA INDONESIA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
Januari 2010
KATA PENGANTAR


Syukur Alhamdulillah kami panjatkan, karena atas limpahan rahmat dan rahim-Nya sehingga tugas makalah ini dengan judul “Kemampuan Menulis Narasi dengan Modelling” dapat diselesaikan sesuai waktu yang ditetapkan.
Tulisan ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam mengikuti mata kuliah Keterampilan Berbahasa Tulis dan Pembelajarannya pada Program Pascasarjana jurusan Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Makassar tahun akademik 2011/2012
Penyelesaian tugas ini, kami mengalami banyak hambatan, namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak baik moril maupun materil sehingga tugas ini dapat terwujud, oleh karena itu penulis tak lupa mengucapkan terima kasih terutama kepada pengasuh mata kuliah: Prof. Dr. H. M. Ide Said D.M., M.Pd.
Kami menyadari bahwa meskipun tugas ini telah dibuat dengan usaha yang maksimal, namun tidak menutup kemungkinan masih terdapat banyak kekurangan. Kritikan dan saran yang sifatnya konstruktif sangat kami harapkan.

Makassar, 2 Januari 2011
Penulis,

Muhammad Fitri
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Komunikasi melalui bahasa dapat berwujud lisan dan dapat pula berwujud tulisan. Proses pemberian dan penerimaan informasi tersebut harus didasarkan pada kemampuan memahami bahasa agar tidak terjadi salah pengertian antara pemberi dan penerima informasi. Untuk mengoptimalkan kemampuan ini, pembelajaran bahasa Indonesia hendaknya terprogram dan terorginisasi dengan baik.
Tujuan pengembangan kemampuan menggunakan bahasa Indonesia meliputi empat aspek keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat keterampilan berbahasa inilah yang merupakan fokus tujuan pengajaran bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa pengajaran bahasa Indonesia dalam menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Di antara keempat keterampilan berbahasa, dapat dikatakan bahwa pengajaran keterampilan menulis yang paling sulit untuk diajarkan karena pengajaran keterampilan menulis merupakan kegiatan proses kreatif yang memerlukan keterampilan khusus.
Modal menulis merupakan modal penting dalam kehidupan seseorang. Kemampuan menulis sebagai suatu bentuk komunikasi secara tertulis, dapat dikatakan sebagai suatu kebutuhan bagi setiap orang, lebih-lebih siswa. Kebutuhan siswa untuk mampu menulis didasarkan pada keterkaitan antara siswa dengan pendidikannya dan keterkaitan siswa dengan apa yang akan dihadapinya dalam kehidupan di masyarakat.
Penggunaan metode dan strategi yang tepat dalam pembelajaran menulis akan membantu pengajaran ini menjadi lebih menarik dan tidak membosankan. Penggunaan media juga berperanan penting dalam meningkatkan minat siswa dalam menulis.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalahnya adalah:
1. apakah pengertian menulis
2. apakah konsep dasar menulis narasi?
3. bagaimanakah cara pembelajaran keterampilan menulis narasi?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penulisan makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan:
1. Pengertian menulis
2. Konsep dasar menulis narasi
3. Cara pembelajaran keterampilan menulis narasi

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Menulis
Kemampuan menulis merupakan bentuk kemampuan berbahasa di samping kemampuan berbahasa lainnya. Kemampuan menulis merupakan modal penting dalam kehidupan sesorang, baik di sekolah, maupun di masyarakat. Kemampuan menulis sebagai bentuk kegiatan komunikasi secara tertulis dapat disebut sebagai suatu kebutuhan bagi setiap orang (Syafruddin, 2000:10).
Akhadiah dkk. (1999) berpendapat bahwa menulis merupakan suatu bentuk komunikasi dan proses pemikiran yang dimulai dengan pemikiran tentang gagasan yang akan disampaikan. Menulis merupakan bentuk komunikasi yang berbeda dengan bercakap-cakap. Dalam tulisan tidak terdapat intonasi, ekspresi, dan gerakan fisik. Menulis merupakan bentuk komunikasi untuk menyampaikan gagasan penulis kepada khalayak pembaca yang dibatasi oleh jarak, tempat, dan waktu.
Tarigan (1982) berpendapat bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik, yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut kalau mereka memahami bahasa dan gambar grafik itu.
Keraf (1982) memberikan penjelasan mengenai menulis yang disebutkannya dengan komposisi, menyatakan bahwa komposisi adalah proses penggunaan bahasa yang kompleks dan mempunyai prasyarat-prasyarat: (1) menguasai pengetahuan bahasa; (2) memiliki kemampuan penalaran yang baik; (3)memiliki pengetahuan yang mantap mengenai objek garapannya; dan (4) menguasai mekanik karang-mengarang.
Kemampuan menulis bahasa Indonesia adalah kemampuan menggunakan bahasa Indonesia secara tertulis dalam mengungkapkan diri dari hasil kegiatan yang menuturkan pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain dan menjelaskan penghayatan penulis terhadap lingkungan sekitarnya.
Nurgiyantoro (1988) menjelaskan bahwa menulis merupakan suatu bentuk manivestasi kemampuan atau keterampilan berbahasa paling akhir dikuasai pebelajar setelah kemampuan menyimak, berbicara, dan membaca. Kemampuan menulis menghendaki penguasaan berbagai unsur kebahasaan dan unsur di luar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi karangan. Unsur bahasa dan unsur isi haruslah terjalin rapi untuk menghasilkan karangan yang runtut dan padu.
Dari berbagai uraian ini, dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan suatu bentuk komunikasi yang tidak langsung untuk menyampaikan gagasan penulis kepada pembaca dengan menggunakan media bahasa yang dilengkapi dengan unsur suprasegmental. Oleh karena itu, menulis perlu dipelajari dan dilatihkan secara intensif.
Salah satu hambatan menulis yang dihadapi peserta didik sehingga banyak di antara mereka yang tidak produktif apalagi kreatif di bidang penulisan disebabkan ketidakbiasaan peserta didik menuangkan gagasan dan pikirannya. Pernyataan klasik yang selalu muncul ketika seorang peserta didik akan memulai kegiatan menulis adalah bermula di mana dan berakhir di mana.
Proses pengajaran menulis merupakan suatu proses yang kompleks, yang merupakan keterampilan berbahasa yang meminta perhatian paling akhir. Menulis sering dipandang sebagai suatu ilmu dan seni, karena di samping memiliki aturan-aturan pada unsur-unsurnya juga mengandung tuntutan bakat yang menyebabkan suatu tulisan tidak semata-mata sebagai batang tubuh sistem yang membawakan makna atau maksud, tetapi juga membuat penyampaian maksud tersebut menjadi unik, menarik, dan menyenangkan pembacanya.

B. Konsep Dasar Narasi
Narasi adalah bentuk percakapan atau tulisan yang bertujuan menyampaikan atau menceritakan rangkaian peristiwa atau pengalaman manusia berdasarkan perkembangan dari waktu ke waktu (Semi, 1990).
Ambo Enre (1994) mengemukakan bahwa narasi adalah rangkaian peristiwa yang dijalin sedemikian rupa untuk mengantarkan pembaca dari suatu permulaan menuju kepada suatu akhir dengan cara membangkitkan kesan kenyataan yang hidup.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mencantumkan bahwa narasi adalah pencarian suatu cerita atau kejadian; cerita atau deskripsi dari suatu kejadian atau peristiwa; kisahan; tema suatu karya seni; dan menyajikan sebuah kejadian yang disusun berdasarkan urutan waktu.
Berdasarkan beberapa pengertian narasi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa narasi adalah rangkaian tuturan yang menceritakan atau menyajikan suatu hal kejadian melalui tokoh atau pelaku dengan maksud memperluas pengetahuan pendengar atau pembaca. Narasi sebagai sebuah karangan mempunyai struktur alur. Alur adalah sambung-sinambung cerita yang disebabkan oleh sebab akibat.
Narasi dapat digololongkan menjadi dua bagian, yaitu (1) narasi ekspositoris atau narasi teknis, dan (2) narasi sugestif. Narasi ekspositoris atau narasi teknis, adalah narasi yang ingin mencapai ketepatan informasi mengenai suatu peristiwa yang dideskripsikan, yaitu memperluas pengetahuan orang. Narasi ekspositoris bertujuan menggugat pikiran pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio, yaitu berupa perluasan pengetahuan para pembaca sesudah membaca kisah tersebut. Narasi menyampaikan informasi mengenai berlangsungnya suatu peristiwa.
Narasi sugestif berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada pembaca atau pendengar. Narasi sugestif, juga bertalian dengan tindakan atau perbuatan yang dirangkaian dalam suatu kejadian atau peristiwa. Seluruh rangkaian kejadian itu berlangsung dalam satu kesatuan waktu, tetapi tujuan atau sasaran utamanya bukan memperluas pengetahuan seseorang, melainkan berusaha memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman karena sasarannya adalah makna peristiwa atau kejadian itu, maka narasi sugestif selalu melibatkan daya hayal atau imajinasi.
Narasi dapat berupa fakta dapat pula berupa sesuatu yang bersifat imajinatif (daya bayang). Narasi yang berupa fakta adalah biografi atau autobiografi, sedangkan narasi yang berbentuk imajinatif adalah cerpen, novel, roman, hikayat, drama, dan dongeng. Dalam narasi terdapat dialog tokoh-tokoh cerita (Supriyadi, 1992).
Narasi merupakan penyampaian seperangkat peristiwa atau pengalaman tentang diri sendiri, tentang orang lain, pada suatu saat atau satu kurun waktu tertentu. Sebagai cerita, narasi bermaksud memberitahukan apa yang diketahui dan dialami kepada pembaca atau pendengar dengan tujuan agar mereka dapat merasakan dan mengetahui peristiwa tersebut, sehingga menimbulkan kesan di hati penulis, baik berupa kesan isi peristiwa atau kejadian maupun berupa kesan estetik yang disebabkan oleh cara penyampaian yang bersifat sastra dengan menggunakan bahasa yang figuratif.
Menurut Ambo Enre (1994) narasi yang baik adalah yang mempunyai lima persyaratan pengisahan, yaitu: (1) urutan waktu, yang sifatnya sangat mendasar dalam pengisahan narasi; (2) motif pengisahan, yaitu semua pengisahan berhubungan dengan manusia, sehingga seharusnya memperkenalkan ide tentang motif atau tujuan yang ada dalam benak pelaku yang mendorongnya melakukan suatu tindakan; (3) konflik yaitu perbenturan dua kepentingan yang berbeda; (4) titik kisah (sudut pandang), yaitu mengantar pembaca agar mengetahui dari sudut mana ia diharapkan mengikuti uraian pengisahan terjalin hubungan antara pengisah dan yang dikisahkan; dan (5) pusat perhatian, yaitu pengisahan yang dilakukan secara selektif sehingga merupakan sebuah penggambaran lengkap tentang seseorang atau suatu pemandangan.
Dapat disimpulkan bahwa sebuah narasi (pengisahan) yang baik adalah karangan yang mengisahkan sebuah objek dengan memperhatikan urutan-urutan kejadian, yang menimbulkan konflik dan penyelesaian, sehingga menimbulkan kesatuan makna antara yang digambarkan atau dikisahkan dengan cara mengisahkannya.

C. Keterampilan Menulis Narasi dengan Pemodelan
Salah satu prinsip paling penting dari psikologi pendidikan adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat membantu proses ini dengan cara–cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide, dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga yang dapat membantu mereka mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi, tetapi harus diupayakan agar siswa sendiri yang memanjat tangga tersebut.
Dalam pembelajaran ada sembilan hal yang perlu diperhatikan guru yaitu:
1. Apa yang diajarkan. Berhubungan dengan hal ini pembelajaran harus memperhatikan nilai-nilai yang ada di dalam keluarga dan masyarakat, memperhatikan kurikulum nasional, dan menyiapkan keterampilan untuk hidup dan bekerja di masa datang.
2. Sumber belajar apa yang tersedia dan dapat diharapkan. Situasi di Indonesia tidak memungkinkan untuk menyediakan sumber belajar berupa buku teks dan perangkat pembelajaran lain yang canggih. Pendidikan masih banyak didasarkan atas buku teks yang didasarkan atas kurikulum yang diproduksi secara masal.
3. Siapa yang diajar. Sasaran memiliki makna bahwa pembelajaran harus mempertimbangkan karakteristik siswa sasaran. Ini berarti bahwa kebutuhan pendidikan dan gaya belajar siswa harus dievaluasi dan digunakan sebagai landasan dalam penyusunan program pendidikan. Inti dari dari sasaran adalah: siswa, masyarakat atau keluarga, budaya, nilai-nilai atau motivasi.
4. Kualitas guru yang dibutuhkan. Kualitas guru yang dibutuhkan adalah yang memiliki perhatian terhadap kemanusiaan, penuh pengabdian untuk mendarmabaktikan pengetahuan dan keterampilannya, dan memiliki kesadaran yang tinggi dan memandang siswa sebagai pribadi yang sedang tumbuh menjadi dewasa yang membutuhkan bantuan.
5. Metode pembelajaran yang direkomendasikan. Siswa belajar dengan baik jika mereka belajar secara aktif, holistik, dan guru menggunakan pendekatan yang memungkinkan siswa menggunakannya dalam praktik. Siswa perlu menggunakan strategi belajar kooperatif sehingga mereka dapat meraih hasil belajar tinggi melalui saling tukar informasi dan menjelaskan konsep yang satu sama lain melalui percakapan yang substansial.
6. Bagaimana cara menilai prestasi siswa. Hasil belajar siswa diukur dengan penjajagan terhadap kemampuan siswa mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilannya. Penilaian harus sinambung, formatif dan kumulatif, langsung pada upaya menjamin prestasi belajar siswa dan didukung oleh contoh pekerjaan siswa.
7. Waktu. Siswa harus siap untuk belajar. Belajar membutuhkan keterampilan prasyarat, siswa memiliki pengalaman kehidupan belajar dan kematangan yang berbeda.
8. Lingkungan belajar. Lingkungan belajar harus dikenal siswa. Berbagai sumber digunakan secara langsung dari lingkungan mereka.
9. Kegunaan. Mengapa mengajar dengan cara seperti itu? pendidikan harus menghubungkan apa yang telah diketahui siswa dengan informasi baru yang terkait dengan kegunaan dalam kehidupan saat ini.
Pembelajaran di kelas menuntut guru untuk memilih metode, strategi atau teknik yang sesuai dengan bahan yang akan diajarkan. Mengajarkan keterampilan menulis narasi dengan modeling adalah salah satu cara guru dalam memberikan pembelajaran.
Modeling adalah salah satu kompenen pembelajaran kontekstual. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Modeling pada dasarnya membahasakan gagasan gagasan yang dipikirkan, mendemostrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan.
Modeling dapat berbentuk demostrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Dengan kata lain, model itu dapat berupa cara mengoperasikan sesuatu. Guru memberikan model tentang ”bagaimana cara belajar”.
Sebagian guru memberi contoh tentang cara bekerja sesuatu, sebelum siswa melaksanakan tugas. Misalnya, cara menemukan kata kunci dalam bacaan sastra. Dalam pembelajaran tersebut guru mendemonstrasikan cara menemukan kata kunci dalam bacaan dengan menelusuri bacaan secara cepat dengan memanfaatkan gerakan mata. Kata kunci yang ditemukan guru disampaikan kepada siswa sebagai hasil kegiatan pembelajaran menemukan kata kunci secara cepat. Secara sederhana, kegiatan itu disebut pemodelan. Artinya ada model yang bisa ditiru dan diamati siswa, sebelum mereka berlatih menemukan kata kunci. Dalam kasus ini, guru menjadi model.
Dalam pembelajaran kontestual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang siswa dapat ditunjuk untuk memeberi contoh temannya cara melafalkan sutu kata . siswa contoh tersebut dikatakan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus dicapainya.
Model juga dapat didatangkan dari luar. Model tidak hanya benda hidup tetapi dapat juga benda mati. Seorang guru bahasa Indonesia menunjukkan buku karya satra yang berisi tulisan berbentuk narasi. Buku tersebut dapat dijadikan siswa sebagai model dalam menulis cerita narasi. Buku yang dijadikan model tidak boleh hanya satu tetapi harus lebih banyak agar wawasan siswa lebih luas serta siswa dapat memilih yang mana yang akan dijadikan model.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Menulis merupakan suatu bentuk komunikasi yang tidak langsung untuk menyampaikan gagasan penulis kepada pembaca dengan menggunakan media bahasa yang dilengkapi dengan unsur suprasegmental. Oleh karena itu, menulis perlu dipelajari dan dilatihkan secara intensif.
Narasi merupakan penyampaian seperangkat peristiwa atau pengalaman tentang diri sendiri, tentang orang lain, pada suatu saat atau sutu kurun waktu tertentu. Sebagai cerita, narasi bermaksud memberitahukan apa yang diketahui dan dialami kepada pembaca atau pendengar dengan tujuan agar mereka dapat merasakan dan mengetahui peristiwa tersebut, sehingga menimbulkan kesan di hati penulis, baik berupa kesan isi peristiwa atau kejadian maupun berupa kesan estetik yang disebabkan oleh cara penyampaian yang bersifat sastra dengan menggunakan bahasa yang figuratif.
Modeling adalah salah satu kompenen pembelajaran kontekstual. Maksudnya, dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang dapat ditiru. Modeling pada dasarnya membahasakan gagasan gagasan yang dipikirkan, mendemostrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan.


B. Saran
Mengajarkan bahasa Indonesia khususnya keterampilan menulis diharapkan semaksimal mungkin menggunakan media dalam pembelajaran. Metode dan teknik haruslah disesuaikan dengan materi ajar agar pembelajaran lebih menarik.
Dalam pembelajaran kegiatan menulis, hendaknya guru lebih memberi kesempatan kepada siswa untuk mencurahkan gagasannya dalam bentuk tertulis.


DAFTAR PUSTAKA


Akhadiah, Saarti, dkk. 1999. Pembinaan Keterampilan Menulis. Jakarta: Erlanga.

Ambo Enre, Fachruddin. 1994. Dasar-Dasar Keterampilan Menulis. Ujung Pandang: IKIP Ujung Pandang.

Keraf, Gorys. 1982. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.

Nurgiyantoro, Burhan. 1988. Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.

Semi, M. Atar. 19890. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya.

Supriyadi. 1992. Pendidikan Bahasa Indonesia 2. Jakarta: Depdikbud.

Syafruddin. 2000. ”Kemampuan Menulis Wacana Eksposisi Siswa Kelas II SMU Swasta Kabupaten Gowa”. Tesis. Makassar: PPs Universitas Negeri Makassar.

Tarigan, Henry Guntur. 1982. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

LELAKI BERHATI MALAIKAT

LELAKI BERHATI MALAIKAT
Oleh : Hasbullah Said

GERAH udara siang tak menyurutkan niatnya bagi sekelompok petugas Sat. Pol. PP. untuk membongkar paksa kios-kios milik PKL yang berderet di sepanjang bibir jalan protokol itu. Kendati tak semudah melakukannya, karena mendapat perlawanan sengit dari mereka, namun tugas itu tetap harus dilaksanakan dengan tujuan penertiban, menuju Kota Metroplitan kota bersih aman dan tertib.
Tangis dan teriakan histeris dari para pemilik kios itu terdengar membahana sebagai wujud penolakan atau protes yang berbuntut kericuhan yang tak terelakkan. Aksi saling dorong-dorongan terjadi antara petugas Sat. PP. dengan PKL pengunjuk rasa menghalang-halangi untuk tidak dilakukan eksekusi pembongkaran paksa terhadap sejumlah kios milik mereka.
Puncak ketegangan terjadi ketika massa PKL semakin berutal melakukan perlawanan menghadang petugas dengan teriakan histeris, Allahu Akbar berkumandang menggema ke jagat raya yang semakin terik seolah membakar hangus segala apa yang ada di bumi. Namun kondisi seperti itu tidaklah menjadi ciut nyali bagi para petugas Sat. Pol. PP karena hal serupa sering dialami sebelumnya.
“Allahu Akbar…..Allahu Akbar, hidup PKL, maju terus pantang mundur“ begitu pekik mereka dengan nada emosi.
“Lebih baik kita mati di sini, dari pada kita diusir disuruh meninggalkan tempat ini, yang tidak menentu ke mana lagi kita harus mencari nafkah.” teriak salah satu dari pengunjuk rasa dengan suara lantang.
“Ini adalah tugas kami, perintah dari atasan yang harus kami laksanakan apapun resikonya. “balas komandan Sat. Pol. PP. berpakaian seragam lengkap dengan atributnya, berjalan dengan tenangnya ke tengah-tengah kerumunan massa pengunjuk rasa, memberikan pengertian kepada mereka secara persuasif.
“Bukanlah ini suatu pembantaian massal terhadap rakyat kecil seperti kami ini” sahut salah seorang perwakilan mereka, dengan penuh emosi.
“Tenang,….tenanglah, tolong saudara-saudara dengar baik-baik, marilah kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin, janganlah kita terpancing dengan rasa emosi sehingga kita tidak menghasilkan penyelesaian yang terbaik.” sahut komandan Sat. Pol. PP. dengan kata-kata yang bijak menenangkan emosi massa pengunjuk rasa.
“Mana mungkin pemerintah akan menyengsarakan dan menterlantarkan rakyatnya, hal ini mustahil terjadi, yakinlah saudara-saudaraku sekalian, pemerintah kota akan mencarikan solusi yang terbaik bagi saudara-saudara PKL.”.
“Tapi buktinya “serentak mereka memotong dengan suara gaduh. Komandan Sat. Pol. Bersama anggotanya tak menanggapi teriakan mereka, tetap melaksanakan tugasnya membongkar paksa kios-kios mereka.
Kemacetan arus lalu lintas di sepanjang jalan protokol itu tak terelakkan. Semua jenis kendaraan tertahan hingga berjam-jam lamanya membuat jalan macet total berderet panjang ke belakang hingga beratus-ratus meter jauhnya.
Suasana di tempat kejadian semakin panas, seiring panasnya matahari menyengat kulit ari di siang itu.
Ketika Sat. PP. hendak membongkar paksa kios bengkel pres ban dalam, tiba-tiba seorang lelaki paruh baya berbadan kekar, muncul dari dalam kiosnya mengadakan perlawanan terhadap petugas dengan memegang sejata tajam ditangannya sambil mengayun-ayunkan disertai teriakan.
“Kami lebih baik mati ditempat ini, dengan tetesan darah penghabisan dari pada kami dipaksa pindah dari sini tak tentu kemana lagi kami akan cari hidup. Kami bukan penjahat diperlakukan tak manusiawi seperti ini, kami rakyat miskin hanya mencari sesuap nasi sebagai penyambung hidup” begitu suaranya lantang sembari mengayunkan senjata tajamnya ke arah para petugas, membuat petugas urung melakukan tugasnya karena kondisi yang tak menguntungkan bagi mereka.
Tak lama kemudian petugas Kepolisian datang memberikan bantuan. Dan dengan tidak mendapatkan kesulitan yang berarti lelaki itu dapat diringkus kemudian digiring oleh aparat Kepolisian dengan menggunakan mobil patroli meraung-raung di sepanjang ruas jalan menuju Polsekta terdekat.
Akhirnya berangsur-angsur pengunjuk rasa membubarkan diri masing-masing dengan tertib meninggalkan tempat itu kendati kios mereka masih porak-poranda berantakan tak beraturan.
Diharapkan oleh banyak kalangan bahwa di dalam penertiban sekian banyak PKL yang bertebaran hampir di sepanjang jalan protokol. Pemkot sudah tepat melakukan penataan dan penertiban untuk mencegah kesemrawutan pembangunan Kota Makassar, namun harus dicarikan solusi yang terbaik terhadap PKL. Jangan hanya melakukan penertiban terus akan tetapi tidak ada solusi yang terbaik, padahal mereka juga butuh makan sama seperti kita. Solusi yang terbaik Pemkot harus melakukan penataan dengan membuat suatu lokasi khusus yang bisa ditempati berjualan bagi para PKL, sehingga mereka dapat berjualan dengan tenang dan aman, terbebas dari penertiban petugas dan juga pemkot dapat memasukkan retribusi dari mereka.
Dilemma memang. Di satu sisi kita sepakat mendukung Pemkot melakukan penertiban dengan tujuan keindahan dan kebersihan kota, di sisi lain manusia PKL butuh hidup mencari sesuap nasi. Tentu kedua belah pihak mencari solusi yang terbaik agar kedua-duanya dapat berjalan dengan lancar.
Masih di tempat kejadian perkara, Dg. Basse perempuan paruh baya itu masih saja berada di situ, di atas reruntuhan kiosnya yang porak-poranda habis dibongkar. Menangis sesunggukan sambil mengumpulkan barang dagangannya yang berserakan, tak sempat dikemasi ketika petugas datang membongkar paksa kios miliknya.
“Kemana lagi saya akan mencari hidup, harapan untuk berjualan kembali sudah agak sulit, karena untuk ketiga kalinya saya mengalami nasib seperti ini“ katanya iba sembari menghapus air matanya yang mengalir membasahi wajahnya yang keriput.
“Mungkin sudah suratan takdir saya yang kurang beruntung” lanjutnya lagi menyesali nasibnya sambil menatap miris ke arah setiap pengguna jalan yang berlalu lalang di sekitarnya.
Seorang lelaki perlente kebetulan terjebak oleh kemacetan arus lalu lintas turun dari atas mobilnya kemudian berjalan mendekati Mak Basse.
“Sabarlah ya, bu !” sapah lelaki itu memberi semangat sambil menepuk pudaknya.
“Sabar itupun ada batasnya, nak” sahut ibu itu sambil menatap lekat-lekat kearahnya dengan sorot mata kepedihan yang amat dalam.
“Tapi apakah ibu bersedia saya bantu ? ”tanya lelaki itu, menawarkan kepadanya dengan penuh kesungguhan.
“Tentu,….. tentu saja ibu bersedia nak” sahut Mak Basse dengan nada gembira kendati di hatinya lahir keraguan, mana mungkin ada orang bersedia menolong di saat krisis seperti sekarang ini” begitu pikirannya dihati.
“Bantuan apa barangkali anakku? “ lanjut Mak Basse bertanya tak sabar.
“Begini bu, sekarang juga kemasi barang dagangannya naikkan di mobil saya. Nanti ibu jualan di rumah saya, yang kebetulan lokasinya tepat di depan pasar tradisional. Di halaman samping rumah terdapat tanah kosong di situ ada dua tiga orang berjualan, ibu dapat bergabung bersama mereka tanpa dipungut bayaran apa-apa”.
“Ibu setuju tidak? “ tanya lelaki itu sambil melempar senyum pada Mak Basse.
“Terima kasih banyak anakku, tentu ibu sangat setuju” sahut Mak Basse sambil mengemasi barang dagangannya yang terdiri dari barang campuran.
“Untung ada lelaki yang berhati malaikat menolongku” desisnya dalam hati sambil membawa barang dagangannya ke atas mobil itu milik lelaki itu.
“Ya, sama-sama Mak Basse” ujar lelaki itu sambil menyetir sendiri mobilnya menuju rumah tempat tinggalnya bersama Mak Basse.
ooOOOoo
Makassar, 23 April 2007

IZINKAN AKU PERGI KE SERAWAK

IZINKAN AKU PERGI KE SERAWAK
Oleh : Hasbullah Said

Angin sore berhembus perlahan. Dingin mengelus tubuhnya yang jangkung di balik jaket blue jeans yang ia kenakan. Kendati tak mampu mengusik dari duduknya di atas tanggul dermaga itu. Menatap gerombolan camar laut sedang terbang aktobatik menyambar-nyambar dengan lincahnya di atas permukaan laut.
Pemuda itu bernama Rizal duduk diam termangu tak bergerak kayak arca terbuat dari batu pualam. Matanya redup, kuyu, sama seperti mata pengemis gepeng di setiap prapatan jalan memandangi kesibukan orang-orang yang lalu lalang di situ. Rizal mengenakan baju kaos warna merah darah dibalut dengan jaket blue jeans di luarnya. Sinar matanya memancarkan kelesuan seperti ada kepedihan terpendam, membedakan dengan pemuda tanggung seusianya nampak energik. Lewat sikapnya, telah ditebak dihatinya kini bermukim kepedihan luka hati yang teramat dalam. Luka yang tak dapat ditaksir dalamnya, kendati di disitu tak ada darah menetes.
Sebuah gerobak lewat di hadapannya dihela oleh dua orang kuli pelabuhan, membuat dia sadar dari lamunannya. Hidup bagaikan roda pedati berputar sesudah ke atas ke bawah lagi, silih berganti, bagai siang dan malam, susah senang, si kaya dan si miskin semua sama di hadapan Allah, Sang Khalik penciptanya.
Kenyataan pahit mendera batinnya, merintih pedih, dan pedih sekali terasa. Bukan dia mungkin akan takdir yang diberikan padanya, malah hatinya abadi mewiridkan sejuta doa dan dzikir memuja kebesaran-Nya, karena dia adalah anak shaleh taat beribadah kepada-Nya.
Ketika siang tadi ia menerima pernyataan gagal dalam kuliahnya, yang menjadi tumpuan harapan bagi seluruh sanak keluarganya. Patah di tengah jalan, terhempas dan terkandas, lalu jatuh hancur berkeping-keping. Gagal berarti sirnalah segala harapan dan cita-cita bagi seluruh anggota keluarganya yang hanya padanya seorang tumpuan harapan mereka sebagai satu-satunya anak lelaki dari sekian bersaudara.
Ketika panitia ujian semester akhir mengumumkan yudisium hasil ujiannya di kampus tempatnya ia kuliah. Ada kepedihan hati yang tersembul dari balik rongga di dadanya sama seperti beberapa orang teman mahasiswa yang senasib dengannya.
Diingat-ingatnya kalimat demi kalimat isi surat yang diletakkannya di atas meja tulisnya di dalam kamar tidurnya yang ditujukan kepada ayah bundanya yang isinya seperti demikian.

Ayah bundaku yang anakda hormati ;
Ketika anakda pergi, ayah dan bunda masih tertidur pulas dalam kelelapan, sebelum adikku Tini sempat menyajikan sarapan pagi buat kita semua. Anakda pergi tanpa setahu ayah dam bunda di saat fajar mulai menyingsing, semasih embun pagi bergelantungan lekat di ujung dedaunan yang hijau. Masih segar nyaman angin pagi berhembus perlahan dari arah gunung. Sayup-sayup sampai terdengar suara alunan adzan di mesjid-mesjid. Begitu bertepatan anakda mengayungkan langkah meninggalkan rumah kita yang mungil ini. Namun kepergianku terasa sangat berat, seberat hatu ayah melepas burung kesayangannya dalam sangkar emas, lepas bebas ke angkasa yang tak bertepi, kendati anakda tak ingin bebas seperti itu. Kutahu betul tindakan anakda ini tak patut dilakukan oleh seorang anak terhadap kedua orang tuanya karena semua itu jelas-jelas adalah suatu perbuatan dosa. Untuk itu, melalui surat ini, anakda berharap agar ayah dan bunda sudih memaafkan anakda.
Kepergian anakda khawatir ayah dan bunda tahu tentang keadaan anakda. Bahwa seorang anak tak tahu diuntung, menyia-nyiakan amanah dan kesempatan yang diberikan kepadanya, membunuh dan menghancurkan harapan dan cita-cita luhur kedua orang tuanya. Bukan itu saja, turut pula menghapus jejak abangku Prof. DR. Ryan Anta Beranta, SH. MH, yang dikenal banyak orang sebagai tokoh pendidikan yang berdedikasi tinggi. Bagaimana nantinya bila hal ini diketahui oleh abangku, kutahu pasti dia akan marah besar terhadapku.
Kini harapan ayah dan bunda untuk menjadikan aku seorang anak berbakti dengan predikat sarjana beriman telah gagal. Ah, betapa dosa besar anakda tanggung terhadap ayah dan bunda,……tapi apa pula artinya ayah, jadi seorang mahasiswa karatan berlarut-larut di semester akhir tak pernah lulus-lulus, yang akhirnya anakda dinyatakan drof out (DO). Kukira kalau bukan anakda salah pilih jurusan, atau mungkin otakku telah jenuh tak mampu lagi menerima pelajaran, karena yang terpikirkan selalu olehku hanyalah bagaimana secepatnya mendapatkan pekerjaan tetap, agar dapat mandiri dan tidak lagi jadi beban buat ayah dan bunda. Walau anakda sadar bahwa untuk menjadi pegawai tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, apa lagi untuk diangkat menjadi pegawai negeri sipil, harus siap segala-galanya menyiapkan uang jutaan rupiah bahkan puluhan juta rupiah baru bisa terangkat menjadi pegawai negeri sipil. Kendati pengangguran adalah momok yang mengerikan bagi pemuda tanggung seperti anakda. Untuk menghindari hal seperti itu amak anakda akan mencoba mengadu nasib di negeri Jiran ikut serta jadi TKI di Serawak Malaysia. Karena katanya di Malaysia pada umumnya kehidupan masyarakatnya jauh lebih sejahtera dari pada disini. Baik sebelum dan sesudah krisis ekonomi yang melanda negeri kita. Di Serawak Malaysia sana, tak kenal krisis ekonomi, krisis kepemimpinan, tak ada unjuk rasa, tak ada rusuh yang selalu mencekam, di negeri ini kita kekenyangan dengan berbagai bentuk unjuk rasa terjadi setiap detik waktu yang berdampak buruk terhadap laju pertumbuhan perekonomian bangsa. Akibatnya, banyak pencari kerja TKI/TKW lari ke Malaysia baik legal maupun ilegal dengan harapan ingin memperbaiki nasib hidupnya mengumpul ringgit sebanyak-banyaknya kemudian mudik ke Indonesia membangun kembali ekonomi rumah tangganya masing-masing yang terlanjur ambruk, akibat imbas dari krisis ekonomi yang berkepanjangan tak kunjung usai.



Untuk itu, izinkanlah anakda pergi ke Serawak Malaysia, agar di sana nanti akan kuperoleh ketenteraman bathinku yang kini galau, sekali lagi izinkanlah anakda pergi.

Sembah sujud anakda,

RIZAL.
* * *

Seruling kapal menggema ke angkasa memecah kesunyian malam pertanda sebentar lagi K.M. Kerinci akan bertolak meninggalkan dermaga Sukarno Hatta tujuan Balik Papan dan Nunukan kemudian Rizal akan melanjutkan perjalanannya menuju Serawak Malaysia.
Dengan langkah perlahan dia berjalan menaiki anak tangga kapal, kemudian setiba di atas dia bersandar di teralis pengaman kapal di kridor dek 3, memandang ke arah bawah sambil melambaikan tangannya kepada para pengantar yang memenuhi pelataran dermaga. Dan tak lama, perlahan-lahan K.M. Kerinci menarik jangkar menjauhi dermaga. Pulau Samalona perlahan-lahan hilang lenyap dipandangnnya tertelan ombak gemulung berlarian dari arah haluan menuju buritan kapal. Selamat tinggal Makassar kota kelahiranku yang tercinta.

Makassar, 14 April 2007

TUTUR BUNGA ALUMNUS PTS DARI DESA ANTA-BRANTA

TUTUR BUNGA ALUMNUS PTS
DARI DESA ANTA-BRANTA
Oleh : Hasbullah Said.-


DINAR melarikan sepeda motornya dengan kecepatan tinggi di atas aspal mulus, melaju ke utara kemudian belok ke arah timur kota. Terus tancap gas tanpa peduli Bunga di boncengannya meringis ketakutan berpegang erat di pinggangnya setengah lingkar.
Ujung-ujung jilbab Bunga dibalik helem pengaman yang ia kenakan melambai-lambai tertiup oleh derasnya angin kencang, bukti nyata kecepatan sepeda motor yang ia tumpangi berada di atas ambang batas. Cubitan bertubi-tubi mendarat dipunggung Dinar pertanda suatu isyarat tidak setuju dengan kecepatan tinggi berharap agar laju sepeda motornya diperlambat.
Suara rintihan Bunga nyaris tak terdengar olehnya tertelan kesiur angin yang menerpa kencang.
“Berhenti, turunkan aku disini ! “begitu teriaknya dengan suara samar-samar hampir tak terdengar oleh Dinar.
“Sebentar, nanti setelah kita tiba di Pos Kamling depan situ” sahutnya dengan nada tipis dipendengaran Bunga. Gas sepeda motornya segera diundur perlahan lalu berhenti tepat di depan Pos Kamling dibibir jalan protokol.
“Kita istirahat disini “katanya sambil duduk bersamanya di atas balai Pos Kamling.
“Sejak kapan kau jadi pembalap” tanya Bunga lirih setelah sejenak mengatur detak nafasnya yang tak beraturan didera oleh rasa cemas.
“Sejak aku kenal Bunga yang cantik lagi anggun” sahut Dinar bercanda sambil menatap wajahnya yang nampak kelelahan sedikit pucat karena ketakutan.
“Jangan bercanda, ingin rekreasi atau cari mati” bentak Bunga gemetaran.
“Kau sendiri minta diantar pergi rekreasi ke Bantimurung setelah usai diwisuda sebagai ungkapan rasa syukur”, kepada yang Maha Kuasa.
“Benar, tapi tidak dengan cara seperti ini, bagai setan kesurupan haus darah” lanjutnya lagi dengan nada tinggi. Dinar diam sejenak, membiarkan emosinya terlampiaskan. Kendati dihatinya lahir penyesalan yang amat dalam.
“Maaf sayang, aku lakukan itu hanya berharap kita lebih awal tiba, agar tidak terperangkap kemacetan serta teriknya matahari yang akan menyiksamu, namun aku janji,….laju sepeda motorku akan kukurangi, pelan, bahkan pelan sekali hingga kita tiba di permandian alam Bantimurung dengan selamat” ujar Dinar dengan nada memelas sembari menyalami tangan Bunga dengan erat.
Hari masih pagi, namun suasana diseputar permandian Bantimurung telah dipadati oleh pengunjungnya berdatangan dari berbagai penjuru kota. Berdua memilih tempat tak jauh dari air terjun mengalir deras dari atas bukit tak pernah henti sepanjang masa. Bernaung di bawah rindangnya pepohonan yang berhawa sejuk. Tumpahan air dari atas perbukitan terdengar gemuruh menyisakan busa putih keperakan, membuat Bunga merasa betah berlamaan disitu enggan bangkit, kendati matahari perlahan beranjak naik menerpa punggung bukit.
“Aku merasa senang, dan senang sekali, berada disini Dinar” ujarnya setelah sekian lama terdiam, sembari menyodorkan kepada Dinar bekal makanan ringan yang ia bawa dari rumahnya.
“Yuk, silahkan !”
“Terima kasih” balas Dinar sembari meraih sekerat roti berisi kayak beraroma strowbery”
“Akupun demikian karena suasananya sama seperti sedang berada di kampung halaman sendiri” ujarnya lagi sambil memperbaiki letak duduknya bersandar dibalik pohon cempaka bersama Bunga.
“Oh, hampir aku lupa, “selamat” lanjutnya lagi menyalami Bunga dengan senyum menatapnya.
“Terima kasih” balasnya pula dengan tatapan senyum tersungging dibibirnya.
“Kau melamar kerja nantinya dimana” tanya Dinar.
“Dimana lagi kalau bukan dihabitatnya sendiri, Pahlawan tanpa tanda jasa” gurau Bunga disertai senyum sumringah. Kedua-duanya senyum bahagia didua insan yang sedang dimabuk asmara.
Matahari perlahan beranjak naik disela-sela rimbunnya pepohonan. Pengunjung permandian alam Bantimurung semakin ramai berdatangan dari semua arah. Hampir tak ada tempat yang lowong disesaki oleh turis lokal bergerombol disetiap sudut ruang.
“Eh, Bunga, boleh tidak kau cerita sedikit tentang pengalamanmu semasa kau kuliah hingga selesai”
“Kenapa tidak, asalkan kau mau mendengarnya” sahut Bunga sembari memperbaiki duduknya santai bersandar dipohon cempaka.
“Begini,…..” ia mulai bicara, lalu sejenak berhenti mengatur nafasnya mendehem menelan ludah yang tersendat ditenggorokannya.
Aku dilahirkan dan dibesarkan disebuah desa terpencil. Sejak kecil aku bercita-cita ingin jadi guru sekolah. Di desaku ketika itu guru masih sangat kurang, sehingga seorang guru dimata masyarakat pedesaan sangat disanjung dan dihormati karena profesi guru dianggap sangat mulia dibanding dengan profesi atau pekerjaan lainnya. Sayangnya, ketika aku tamat di SMP, Sekolah Guru atau SPG (Sekolah Pendidikan Guru) keburu ditutup dengan alasan kurang kumengerti. Akhirnya dengan terpaksa aku lanjut sekolah di SMA di ibu kota Kabupaten. Setamat aku nganggur lama, tidak lanjut kuliah di Perguruan Tinggi karena ketiadaan biaya. Setelah sekian lama menganggur, didesaku, sebuah Perguruan Tinggi Swasta buka kelas jauh dari salah satu PTS yang berkedudukan di kota Makassar. Tentunya seluruh masyarakat pedesaan menyambutnya dengan rasa antusias karena tak perlu lagi ke kota lanjut kuliah membuang banyak biaya. Bagai jamur di musim hujan, begitu PTS berkembang dengan pesat tersebar dimana-mana membuka kelas jauh dengan istilah filial. Program studi yang ditawarkan Tehnologi Pendidikan, yang dianggap sangat cocok bagi masyarakat pedesaan. Aku mencoba mendaftar sebagai mahasiswa walau harus rela mengorbankan segalanya dengan menjual sebahagian dari harta warisan kedua orang tuaku untuk biaya-biaya kuliahku yang begitu mahal.
Kuliah dilaksanakan sekali dalam seminggu, yaitu hari Sabtu jelang tengah malam. Minggu paginya dosen pengajar baru balik ke Makassar. Kuliah dipadatkan setara dengan pertemuan 37 ½ jam perminggu, itu berdasarkan penyampaian dari pengurus PTS bersangkutan ketika kuliah perdana diadakan. Awalnya, perkuliahan berjalan lancar tanpa ada hambatan yang berarti, sehingga mahasiswa mengikutinya dengan tekun dan antusias. Namun lama kelamaan kuliah mulai berjalan tersendat-sendot dalam satu bulannya pertemuan hanya tinggal satu kali, bahkan kadang sama sekali tak ada kuliah. Karena terlanjur basah, lagi pula biaya yang aku keluarkan sudah tak terhitung jumlahnya, maka aku tetap bertahan aktif mengikuti segala aktifitas perkuliahan dan akhirnya akupun sempat berhasil menyelesaikan studiku dengan meraih predikat sarjana pendidikan.
Beberapa bulan kemudian, seusai aku menyelesaikan studiku pada jenjang program S1, pemerintah Kabupaten melalui BKD (Badan Kepegawaian Daerah) mengumumkan akan merekrut dari berbagai kwalifikasi pendidikan untuk diangkat menjadi calon pegawai negeri sipil, termasuk pengangkatan tenaga guru dan perawat yang diperioritaskan karena sangat dibutuhkan. Mendengar berita itu, aku sangat gembira karena kesempatan terbaik bagiku untuk melamar menjadi guru. Segera aku berangkat ke ibu kota Kabupaten mendaftarkan diri untuk ikut seleksi calon PNS dengan membawa serta perlengkapan seadanya.
Jejalan para pelamar terlihat berdesak-desakan di depan loket pendaftaran menyodorkan berkas lamarannya kepada panitia seleksi. Lama aku menunggu giliran untuk dipanggil bersama para pendaftar lainnya. Dan tak lama kemudian suara setengah berteriak dibalik loket terdengar menyebut namaku dipanggil.
“Bunga”
“Saya Pak” sahutku sembari berlarian menerobos masuk kerumunan para pendatar didepan loket.
“Maaf, berkas saudara untuk ikut seleksi calon PNS terpaksa kami kembalikan” ujar salah seorang petugas dibalik loket yang mengenakan seragam kain kheky.
“Alasannya Pak” tanyaku bingung penasaran
“Karena tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan oleh Panitia”
“Maksudnya”. tanyaku ulang tak sabar sambil menerima kembali berkas yang diserahkan padaku.
“Ijazahnya ilegal, karena dikeluarkan oleh lembaga PTS yang tidak terakreditasi oleh yang berwenang berdasarkan Surat Keputusan Dirjen Dikti.
Mendengar jawabnya aku semakin bingung dibuatnya, tak mengerti apa yang ia maksudkan. Lalu kembali aku berteriak dari balik loket pendaftaran memprotes penolakannya.
“Aku ini Pak, bukan berasal dari PTS liar, akan tetapi filial kelas jauh dari PTS ternama yang berkedudukan di Makassar” begitu teriakku emosi.
“Sudah,….sudah,…., lihat ini kalau kau tak percaya” sahut petugas seleksi sembari memperlihatkan padaku sebuah Tabloid Pendidikan dari balik kaca jendela memuat daftar PTS yang tidak terakreditasi. Melihat itu, aku urung kebelakang dengan cucuran keringan dingin yang mengalir membasahi hampir sekujur tubuhku, badanku lunglai bagaikan hancur tak bertenaga. Baru aku sadar bahwa PTS tempatku kuliah tidak terakreditasi alias ilegal. Nasib serupa juga dialami oleh beberapa pendaftar lainnya. Mereka kecewa dan sepakat menuntut pertanggung jawaban dari pimpinan PTSnya yang dianggap sebagai pembohongan publik dengan tendensi penipuan intelektual. Aku segera bergegas pulang ke rumah dengan rintihan hati yang perih, menangis sesunggukan dalam kamarku yang pengap. Impian menjadi seorang Patriot tanpa tanda jasa kini telah sirna, hancur luluh berkeping-keping. Kini tinggal impian bagiku yang tak akan pernah terwujud, entah kapan.
Begitu Bunga mengakhiri ceritanya sambil mengusap air matanya jatuh mengelinding membasai wajahnya yang cantik.
“Sudahlah dik, semoga ada hikmah dibaliknya” bujuk Dinar sambil memeluk Bunga dengan erat sebagai ungkapan rasa simpati padanya.-

oooOOOooo

NESTAPA SEORANG PEREMPUAN PEMILIK IJAZAH PERGURUAN TINGGI SWASTA

NESTAPA SEORANG PEREMPUAN PEMILIK IJAZAH
PERGURUAN TINGGI SWASTA
Oleh : Hasbullah Said

Sore itu langit cerah. Tak ada awan bergelayut ataupun melintas mengotori langit biru. Hanya sesekali angin lembut berhembus perlahan dari balik perbukitan, tak jauh dari rumah kediamanku. Namun tak mampu mengusikku dari atas balai-balai bambu yang kududuki. Malah semakin terpaku enggan beranjak karena semakin asyik aku menikmati indahnya panorama senja yang menggodaku. Bernaung di bawah teduhnya sebuah pohon harumanis tumbuh di depan halaman rumahku yang sedang berbuah ranum.
Purnama malam perlahan lamban naik menyelinap menampakkan dirinya di balik celah pepohonan yang rindang, seolah senyum manis menatap mayapada ini yang diam termangu. Malampun merayap perlahan menuju gelapnya yang mencekam. Sunyinya malam melahirkan bayang-bayang ketakutan datang bergelayut dibenakku.
Ketika beberapa waktu lalu, sekelompok mahasiswa dari berbagai PTS di kota ini, mendatangi kantor kami di mana tempat aku bekerja, berunjuk rasa, menuntut ujian negara dihapuskan, bahkan menuntut pula Kopertis dibubarkan dengan alasan bahwa Kopertis tidak memberikan peluang kepada PTS untuk mandiri sejajar dengan Perguruan Tinggi Negeri dan banyak lagi alasan dibuat-buat yang tidak rasional.
“Hapuskan Ujian Negara!”
“Bubarkan Kopertis!” begitu teriak mereka serentak dengan suara gaduh dan lantang.
“Kami harap agar Pak Koordinator, memberikan klarifikasi kepada kami tentang keberadaan Kopertis, jangan kerjanya hanya melaksanakan ujian negara melulu yang sangat merugikan bagi kami mahasiswa” begitu orasi salah seorang yang mengenakan atribut almamater PTSnya, melalui megaphone mengaku dirinya koordinator lapangan.
Berangsur-angsur mahasiswa pengunjuk rasa dari berbagai PTS, berdatangan memenuhi pelataran parkir halaman depan kantor Kopertis IX, mereka meneriakkan yel-yel dengan kepalan tinju.
“Hidup PTS, hidup mahasiswa!”
“Hapuskan Ujian Negara!”
“Bubarkan Kopertis!” begitu teriak mereka berulang-ulang kali dengan nada emosi yang tak terkontrol. Untung, karena tak lama kemudian petugas Kepolisian segera datang mengantisipasi suasana kemungkinan terjadinya perbuatan anarkhis yang dilakukan oleh mahasiswa pengunjuk rasa.
“Diminta satu orang perwakilan mahasiswa dari masing-masing PTS untuk segera bernegosiasi dengan Bapak Koordinator” begitu teriak salah satu staf Kopertis melalui pengeras suara.
Suasana perlahan-lahan tenang ketika masing-masing perwakilan mahasiswa memasuki ruang rapat Kopertis.
“Adik-adik mahasiswa” begitu Pak Koordinator memulai bicaranya kemudian ia lanjutkan.
“Pembubaran suatu institusi yang resmi apalagi instansi pemerintah seperti Kopertis, saya kira tak semudah apa yang adik-adik mahasiswa bayangkan. Kopertis bukanlah perkumpulan arisan yang seenaknya begitu mudah untuk dibubarkan. Ada mekanisme yang harus ditempuh dengan berbagai pertimbangan yang matang, begitupula Ujian Negara. Silahkan adik-adik mahasiswa berhubungan dengan pusat, dalam hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi karena keberadaan Kopertis dan pelaksanaan Ujian Negara ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, jadi tuntutan adik-adik mahasiswa salah sasaran.
“Sekalipun Pak Koordinator tidak berkata demikian, kami telah siap berangkat ke Jakarta dalam waktu dekat menemui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengusulkan pembubaran Kopertis, dan bilamana tuntutan kami tidak direspons oleh Koordinator, maka kami akan turun lagi membawa massa mahasiswa yang lebih banyak sepuluh kali lipat dari jumlah yang ada sekarang” ancam salah seorang perwakilan mahasiswa yang hadir dalam pertemuan itu, sambil beranjak mengajak teman-temannya untuk segera meninggalkan kantor Kopertis.
Massa mahasiswa pengunjuk rasa berangsur-angsur membubarkan diri dengan tertib sembari meneriakkan yel-yel.
“Hidup PTS, hidup mahasiswa!”
“Bubarkan Kopertis, hapuskan Ujian Negara!” begitu teriak mereka sambil meningalkan pelataran parkir halaman depan kantor Kopertis dengan mengendari sepeda motornya masing-masing, melahirkan suara bising maraung-raung memekakkan telinga menyisakan asap putih menyebar membumbung ke atas, memerihkan mata telanjang.

*********
Beberapa bulan kemudian. Hari masih pagi, namun rombongan mahasiswa PTS telah banyak berdatangan lebih awal memenuhi hampir seluruh koridor lantai 1 urusan bagian ijazah. Kali ini mereka datang tidak lagi memakai jaket atau atribut almamater, akan tetapi mereka masing-masing membawa sebuah map berisikan foto copy Ijazah yang hendak dilegalisir untuk dipakai melamar kerja di berbagai instansi pemerintah yang akan merekrut beberapa sarjana dari berbagai kualifikasi disiplin ilmu.
Ketika mereka menyodorkan Ijazahnya lewat loket yang telah tersedia, betapa kecewanya mereka ketika mendapat penjelasan dari karyawan petugas legalisasi, bahwa Kopertis tidak punya kewenangan lagi melegalisir Ijazah PTS. Mendengar penyampaian itu, mereka saling bertatapan heran menanyakan kenapa demikian, bahkan mereka tak mau mengerti bila Ijazahnya tidak dilegalisir.
“Kami telah mengajukannya pada panitia penerimaan calon pegawai, namun petugas disana menolak keras tidak mau mengerti dengan alasan bahwa harus dilegalisasi oleh pihak yang berwewenang dalam hal ini Kopertis Wilayah IX” sahut salah seorang dengan nada kesal.
“Kembalilah ke PTSmu masing-masing berikan Ijazahmu kepada pimpinan PTS saudara untuk dilegalisir, karena perubahan kebijakan ini telah ditetapkan dengan surat keputusan MENDIKBUD. Jadi saya harap agar saudara-saudara dapat menerimanya dengan lapang dada”.
“Kalau itu dapat dimengerti oleh panitia penerimaan calon PNS, kalau tidak, bagaimana nasib kami sebagai pemilik ijazah asal PTS” ketus salah seorang dari mereka mencoba bertahan ngotot untuk tetap dilayani”.
“Itu bukan urusan kami lagi, berilah pengertian sebaik mungkin, karena itu jauh sebelumnya telah diberi edaran bagi setiap instansi pemerintah maupun swasta” sahut petugas legalisasi sambil beranjak meninggalkan ke salah satu ruangan. Dan dengan perlahan, berangsur-angsur mereka meninggalkan ruangan legalisasi Ijazah dengan hati yang dongkol.
Hari hampir sore. Waktu telah menunjukkan pukul 15.00 siang. Disebuah bangku-bangku panjang terletak persis di depan pintu masuk ke ruangan legalisasi Ijazah, seorang perempuan muda masih saja duduk sendirian di situ, sambil memegang sebuah map warna merah muda. Dia mengenakan jilbab warna kuning telur, sangat serasih dengan kulitnya yang berwarna sawo matang. Ujung-ujung jilbabnya bergoyang tertiup pusaran angin siang. Aku berjalan menghampirinya lalu menyapanya.
“Apa perlu adik saya bantu” begitu tegurku menawarkan jasa baikku terhadapnya, sembari duduk didekatnya di atas bangku-bangku itu. Ia tidak segera menyahuti tanyaku merunduk ke bawah ubin keramik, sambil memegangi map ditangannya. Sesaat kemudian perlahan ia mengangkat wajahnya menatapku dengan kerut wajah yang sendu.
“Iya, terima kasih Pak” sahutnya lirih.
“Apa barang kali” ulangku bertanya sambil melempar senyum padanya.
“Sama dengan teman-temanku yang sudah pulang duluan berharap ijazahnya disahkan”
“Ouw, sangkaanku mereka datang berunjuk rasa menuntut Kopertis dibubarkan” kataku menyindir. Perempuan itu sejenak diam, lalu map yang dipegangnya dikibas-kibaskannya kearah tubuhnya menghalau gerah udara di siang itu.
“Jangan berprasangka buruk begitu Pak!” tak sejauh itu kami berbuat demikian, kami datang hanya meminta agar ijazah kami disahkan, karena ditempat kami melamar kerja untuk diangkat menjadi calon PNS, ditolak karena tidak dilegalisir oleh yang berwewenang dalam hal ini Kopertis IX” lanjutnya lagi sambil menatapku dengan nada miris.
“Maaf dik, saya tak dapat berbuat banyak karena Kopertis tak punya lagi kewenangan untuk melegalisir Ijazah PTS”.
“Kalau begitu, apa artinya ijazah ini, lebih baik saya sobek saja, daripada saya bawa kesini kemari, namun tak dapat dihargai sebagai Ijazah sarjana yang sah” begitu ancamnya emosi disertai tatapan mata yang berkaca-kaca menahan rasa sedih bergelayut dihatinya.
“Begini dik, temuilah Rektormu minta Ijazahmu dilegalisir, kemudian kembali lagi ke tempat pendaftaran di mana kamu melamar pekerjaan, berilah pengertian padanya bahwa telah terjadi perubahan berdasarkan surat keputusan MENDIKBUD, bahwa Ijazah sarjana PTS, cukup dilegalisir oleh masing-masing pimpinan PTS yang bersangkutan” kataku memberi pengertian padanya sembari menepuk pundaknya. Mendengar ucapku, ia mengangguk sedih lalu menghapus air matanya yang jatuh mengelinding membasahi wajahnya yang cantik.
“Terima kasih Pak” sahutnya lirih kemudian bangkit dari duduknya berlalu meninggalkanku di atas bangku-bangku itu.
Malam hampir larut, aku beranjak dari dudukku, berjalan tertatih-tatih menuju masuk ke kamar tidurku, diserang rasa kantuk yang tak tertahankan. Aku berupaya membuang jauh-jauh rasa ketakutan dihatiku, hingga aku terlelap pulas dari tidurku jelang pagi hari yang cerah.

oooOOOooo

PERMATAKU YANG HILANG TELAH KUTEMUKAN KEMBALI

“ Cerpen”



PERMATAKU YANG HILANG TELAH KUTEMUKAN KEMBALI
Oleh : Hasbullah Said

DIAMBANG SORE. Terpaan bias mentari sore semakin redup merayap perlahan menerpa diatas pucuk-pucuk pepohonan nan rindang, menggusur gerah udara siang menuju malam yang kian mendekat. Dengan langkah perlahan aku berjalan menuju ruang tengah rumahku, meraih telpon yang sedang terlelap tidur diatas sebuah buffet tua. Aku bergegas menghubungi teman kampusku yang berada diseberang sana. Keburu jemari tanganku salah pencet satu digit sehingga tersambung kepada seseorang yang aku tidak kenal sebelumnya.
“ Halo, selamat sore“ begitu ujarku sebagai salam pembukaan, setelah aku yakin telpon telah tersambung dengan benar.
“ Selamat sore“ dari seberang sana kudengar suara perempuan menyahut dengan nada sangat lembut.
“ Apa boleh aku bicara dengan Bayu ?”
“ Siapa,… Bayu ?” kembali dia berujar dengan nada sedikit ragu.
“ Ya, benar sekali mbak”
“ Mungkin anda salah sambung karena di sini tidak ada yang bernama Bayu “ sahutnya kedengaran ramah lagi lembut bagaikan bisikan halus.
“ Oh, maaf kalau begitu aku telah mengganggu kesibukan mbak “ balasku dengan nada penyesalan.
“ Tidak apa-apa, namun kalau boleh aku tahu ini dari siapa ?”
“ Diash, jawabku singkat menyebut nama samaran yang aku sering pakai bila menulis cerpen di koran. Mendengar nama itu pembicaraan kami terhenti sejenak sepertinya dia berpikir sesaat mengingat-ngingat sesuatu kemudian dia lanjutkan bicaranya.
“ Ow, nama itu sepertinya tak asing lagi bagiku “ kedengaran suaranya seperti sedang dirasuk oleh rasa penasaran.
“ Kenalnya dimana mbak “ pembicaraan kami segera kupotong karena penasaran pula dibuatnya.
“ Ehem,kudengar dia mendehem tipis, dan sesaat kemudian ia lanjutkan bicaranya padaku dengan suara terbata-bata.
“ Kalau tidak salah, nama itu sering aku temui di koran pada pelataran sastra budaya. Dan tulisannya paling banyak menyita perhatianku, karena kegemaranku senang membaca cerpen dan thema serta alur ceritanya kadang sangat menyentuh perasaanku“ begitu ucapnya perlahan meyakinkan aku, dengan nada sangat antusias.
“ Nama itu mungkin hanya kebetulan sama mbak “ kataku akrab berpura-pura menepis.
“ Jangan begitu dong, seorang penulis yang bijak harus bersikap jujur dan terbuka” ujarnya lagi berfilsafat sepertinya ingin mengenalku lebih dekat. Tapi,… tapi nama itu kan banyak yang sama “sekali lagi aku mencoba menghindar darinya.
“ Ya,benar, tidak semua yang bernama Diash itu adalah penulis, akan tetapi penulis yang aku kenal di koran adalah Diash, benar tidak terserah dari anda”
“ Ehem, aku mendehem perlahan, lalu senyum sendiri dibalik gagang telpon yang aku genggam. Perempuan itu pintar pula berfilsafat, begitu pikirku. Tak mampu aku menyembunyikan identitas diriku, karena dia membuntutiku terus sepertinya sudah sangat sulit untuk lepas dari jeratannya,lalu aku lanjut bicara padanya.
“ Halo, jujur aku katakan bahwa ucapan mbak benar sekali, tapi, … tapi.
“ Tapi, …apa?” cepat dia potong bicaraku dengan nada ingin tahu.
“ Tapi boleh tidak, aku tahu dengan siapa ini aku temani bicara” pintaku dengan nada serius.
“ Hanya itu, sangat mudah,Yulianti Sri Astuti”
“ Jadi aku harus panggil siapa ?”
“ Boleh Sri, juga Yuli karena dirumah sering aku dipanggil Yuli”
Mendengar nama itu, tiba-tiba degup jantungku berdetak kencang, aku tertegun sesaat lalu aku teringat seseorang yang pernah aku kenal sangat dekat denganku. Sebelum pembicaraan kami tutup terlebih dahulu Yuli meminta padaku nomor telpon dan alamat rumahku, kemudian pembicaraan kuakhiri dengan ucapan.
“ Terima kasih, selamat sore”
“ Selamat sore” balasnya dengan perlahan lembut. terdengar dari seberang sana.
Seusai pembicaraanku dengan perempuan itu, aku selalu dibuntuti oleh rasa ingin kenal sosoknya lebih dalam. Siapa sebenarnya dia, begitu lembut cara bicaranya, lagi pula cepat akrab denganku ?. Aku ingin bertanya, tapi kepada siapa ? Dan aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa perempuan itu selalu mengganggu pikiranku, padahal aku belum pernah mengenal dia jauh sebelumnya,apalagi ketemu dengannya. Sangat aneh dan lucu. Tapi suaranya itu, bagaikan bisikan halus yang selalu menggodaku, “Tulisan anda di koran paling banyak menyita perhatianku karena kegemaranku senang membaca cerpen, hingga kadang ada saja thema atau alur ceritanya sangat menyentuh perasaanku. Begitu ucapnya dengan kata-kata yang sangat halus. Entah apa nama judul cerpen yang dia maksud, karena sudah tak terhitung jumlahnya tulisanku yang telah dimuat dikoran. Seingatku, NOSTALGIA DI SMP. Itu judul cerpen yang paling terkahir kutulis, atau mungkin ada yang lain yang tak sempat lagi kuingat. Entahlah, kata-kata itu selalu saja menghias dibenakku. Aku berupaya untuk melupakan peristiwa itu. Keesokan harinya aku berkunjung ke rumah Bayu teman kampusku, untuk mengembalikan diktat Antropologi Budaya yang aku pinjam beberapa hari lalu. Semua peristiwa yang aku alami kemarin kuceritakan padanya. Namun Bayu tak begitu serius menanggapi bicaraku, dia hanya senyum sinis padaku lalu berujar.
“ Jangan terlalu serius tanggapi omongan seperti itu, kadang ada orang iseng yang sekadar memancing rasa emosi seseorang”
“ Tapi ini benaran Bayu, tidak main-main “kataku serius.
“ Lalu apa yang hendak kau lakukan selanjutnya ?”
“ Ya, tentu paling tidak kamu dapat lagi kenalan baru khan ?” lanjut Bayu bicara padaku dengan mimik seolah mencibir aku. Aku hanya diam saja, tak menghiraukan omomgannya, kemudian segera aku beranjak meninggalkannya dengan hati yang kesal dan dongkol. Malam harinya dalam kamarku yang hangat, aku berbaring sambil membaca-baca buku pelajaranku, karena ujian semester akhir tidak lama lagi akan berlangsung. Namun tak satupun pelajaran yang singgah diotakku, pikiranku melayang-layang diganggu terus oleh kata-kata Yuli seolah terngiang-ngiang ditelingaku. Ah, masa bodoh, peduli amat, begitu desisku sambil berupaya keras untuk melupakan kata-katanya yang sangat lembut.
Suatu sore, ketika aku sedang membersihkan sepeda motorku yang begitu kotor sehabis diguyur hujan, tiba-tiba adikku Indah berteriak memanggilku, mengatakan ada telpon untukku, dari Yuli. Aku berlari-lari kecil menuju ruang tengah rumahku, hatiku berdebar-debar tak karuan ketika hendak mengangkat gagang telpon itu.
“ Hai, Diash, apa kabar ?” dari seberang sana terdengar suara lembut menyambutnya setelah aku balas dengan ucapan, Halo.
“ Baik-baik saja”
“ Ini dengan Diash khan ?”
“ Ya, benar sekali ?” jawabku meyakinkan dia.
“ Masih ingat, tidak ?”
“ Apa itu ”
“ Ketika telponnya salah sambung ”
“ Ya, ingat, dan itu suatu kenangan buatku yang tak terlupakan seumur hidupku”
“ Yang benar dong ”
“ Eh, Diash, aku kini sedang dalam perjalanan menuju luar kota ” sambungnya lagi
“ Kemana ?
“ Ke suatu desa yang tengah dilanda,……………. ” Pembicaraan kami tiba-tiba terputus. Kuulangi lagi dengan ucapan, halo,halo, namun tak ada sahutan darinya. Ku tahu dia pasti pakai HP, yang mungkin tak terjangkau oleh signal karena sudah terlalu jauh ke pedesaan, kalau tidak batereinya lobet atau lemah, dan mungkin juga telah kehabisan pulsa, entahlah apa penyebabnya.
Sesudah menerima telpon itu, aku kian penasaran berat dibuatnya, tertegun sesaat lalu berpikir, tugas apa dia keluar kota ? dan apa pula profesinya ?.
Sayangnya pembicaraan kami terputus sehingga tak dapat kami bicara panjang lebar. Awal mula perkenalan kami hanya lewat pembicaraan di telpon di ambang sore itu, memang aku tak menduga sebelumnya. Kau telah hanyut dalam suatu lingkaran perkenalan semu, hanya gara-gara salah sambung telpon. Dan nama itu yang sangat membingungkan aku, nama boleh sama tetapi belum tentu orangnya sama. Sekiranya diawal perkenalanku kusebut nama yang sebenarnya tidak dengan nama samaran, mungkin kenangan lama sudah terbongkar dari sebuah gudang misteri. Padahal aku berupaya untuk melupakan segalanya. Kukenal Yuli pada tujuh tahun silam teman sekolahku dulu di SMP , dia lanjut ke sekolah Perawatan dan aku lanjut di SMA dan setamat di SMA aku mencoba mendaftar pendidikan AKABRI namun aku gagal dan akhirnya aku balik kuliah disalah satu Perguruan Tinggi di kota ini, dengan memilih program studi Adm. Negara.
Ketika itu disebuah terminal tua di desaku, aku pisah dengannya, karena masing-masing memilih sekolah yang berbeda kota. Dan sesudahnya itu kami tak pernah ketemu lagi hingga kini. Dua hari kemudian Yuli menelponku kembali mengatakan tugasnya diluar kota usai sudah, dan kini dia telah berada kembali dikota ini. Menyampaikan rasa penyesalannya padaku karena tak dapat bebicara panjang lebar diakibatkan HP-nya ketika itu tak dapat berfungsi karena pulsanya telah habis terpakai. Keluar kota bersama dengan tim lainnya dalam rangka penanggulangan penyakit deman berdarah yang tengah melanda sebuah desa terpencil. Dia mengakhiri percakapannya dengan harapan suatu ketika akan berkunjung kerumahku untuk menemui aku.
Keesokan harinya, Indah adikku yang masih duduk dibangku kelas tiga SD. Tidak masuk sekolah pagi itu, karena badannya tiba-tiba diserang mendadak oleh suhu panas yang sangat tinggi, kemudian disusul dengan dingin menggigil dan sekujur tubuhnya muncul bercak-bercak berwarna merah kecil. Untuk sementara kusimpulkan dia Indah adikku terserang deman berdarah. Kami seisi rumah panik dibuatnya tak tahu apa yang hendak dilakukan untuk menolongnya. Segera kularikan ke salah satu rumah sakit yang terdekat agar mendapat pertolongan secepatnya.
Ketika tiba dirumah sakit itu, dipintu masuk ruang UGD. kutemui seorang perempuan muda dengan memakai seragam putih-putih menyambut Indah adikku memapahnya kemudian dibaringkan diatas kereta dorong lalu dibawanya masuk ke ruang UGD. Aku disuruh menunggu di luar duduk diatas bangkupanjang bercat putih itu. Tak lama kemudian suster itu datang menemuiku hendak menanyakan sebab awalnya penyakit yang menimpa adikku. Sebelum aku ditanya, aku menatap wajahnya lekat-lekat, dan betapa kagetnya aku setelah kutahu suster itu adalah Yuli teman sekolahku dulu di SMP. Sesaat jangtungku berdebar kencang kemudian aku berusaha menenangkan perasaanku lalu aku bertanya padanya.
“ Bukan kau Yuli ?”
“ Oh, benar, kau Budi khan ?”
“ Ya, apa oleh-oleh untukku dari luar kota ?” kelakarku sebagai pembuka bicara dengannya.
“ Di mana kau tahu ?” tanyanya heran.
“ Dari Diash ”
“ Diash itu siapa ?” balik dia bertanya padaku.
“ Diash alias Budi ” kaget dia mendengar jawabku, lalu dia beranjak duduk disampingku diatas bangku panjang itu, sembari mencolek pangkal lenganku begitu senangnya bertemu denganku.
“ Kau pengecut, berlindung dibalik kepopuleranmu dengan menggunakan nama samaran membuat aku bingung dan penasaran. ” katanya bercanda.
“ Eh, Budi, Maaf ya, aku masuk dulu ke UGD, aku sedang ditunggu oleh dokter jaga, kali lain kita akan berbincang lebih lama, dan Insya Allah adikmu akan kami rawat dengan baik hingga dia sembuh betul dari sakitnya.” katanya sambil bangkit berlalu menuju ke ruang UGD meninggalkan aku sendirian duduk dibangku panjang bercat putih itu. Hatiku di dalam berbunga-bunga setelah kutahu bahwa dia adalah Yuli yang menelponku beberap hari lalu, dan dia tak lain adalah teman sekolahku dulu di SMP. Seribu nama Yulianti,hanya satu Yuli milikku, yang sempat menghilang beberapa tahun lamanya, kini permataku yang hilang telah kutemukan kembali.
Makassar, Desember 2005

( Sebuah goresan buat : EKI NASTITIE, dengan harapan, semoga permatanya yang hilang dapat ditemukan kembali. )